Dolar AS Tembus 160 Yen Lagi, Intervensi Jepang Diuji
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar dolar AS terhadap yen menembus level psikologis 160 yen untuk pertama kalinya sejak akhir April 2026.
- Penguatan dolar dipicu ketidakpastian negosiasi damai AS-Iran yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.
- Bank of Japan kembali dihadapkan pada tekanan untuk melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar yen.

Dolar Amerika Serikat kembali menguat tajam terhadap yen Jepang, menembus level psikologis 160 yen dalam perdagangan di Tokyo pada Rabu (3/6/2026). Ini merupakan kali pertama sejak akhir April lalu, saat otoritas Jepang mulai melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing untuk menopang mata uang domestik yang terus terpuruk.
Penguatan dolar terjadi setelah sentimen risk-off mendominasi pasar global. Ketidakpastian mengenai prospek perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor memburu aset-aset safe haven, termasuk dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam pun terus menguat sejak sesi perdagangan New York semalam.
Bagi Jepang, pelemahan yen yang berkelanjutan menjadi momok tersendiri. Meskipun eksportir diuntungkan, biaya impor—terutama energi dan bahan baku—melonjak drastis, menekan daya beli masyarakat dan memperlebar defisit perdagangan. Bank of Japan (BOJ) sebelumnya telah menggelontorkan miliaran dolar untuk membeli yen pada akhir April, namun efeknya mulai memudar.
Analis pasar menilai bahwa tanpa intervensi yang kredibel, yen berpotensi terus merosot. “Pasar sedang menguji tekad BOJ. Jika tidak ada tindakan nyata, level 160 bisa menjadi batu loncatan menuju 165 atau lebih,” ujar seorang ekonom di Tokyo. Sementara itu, Kementerian Keuangan Jepang masih bungkam mengenai kemungkinan intervensi baru.
Dampak pelemahan yen juga terasa di Indonesia. Sebagai mitra dagang utama Jepang, Indonesia menghadapi risiko kenaikan harga barang impor dari Jepang, terutama komponen elektronik dan kendaraan. Di sisi lain, ekspor komoditas Indonesia ke Jepang menjadi lebih kompetitif karena harga dalam yen lebih murah. Namun, secara netto, pelemahan yen cenderung merugikan Indonesia karena defisit neraca perdagangan dengan Jepang.
Bank Indonesia (BI) pun perlu mewaspadai efek rambatan. Jika yen terus melemah, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat karena investor asing mungkin beralih ke dolar AS. “Stabilitas nilai tukar rupiah harus dijaga agar tidak ikut terdepresiasi,” ujar seorang analis di Jakarta.
Ke depan, pergerakan dolar-yen akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran serta sinyal kebijakan BOJ. Jika ketegangan geopolitik mereda, dolar bisa kehilangan momentum. Namun, jika tidak ada kesepakatan damai, yen berpotensi terus tertekan. Pertanyaannya, sejauh mana otoritas Jepang bersedia menguras cadangan devisa untuk mempertahankan yen?



