IHSG Tertekan Ketidakpastian Global: Peluang di Sektor Ini Menurut Analis
Baca dalam 60 detik
- Analis menilai kekhawatiran pasar terhadap indeks MSCI dan eskalasi konflik Timur Tengah menjadi beban utama IHSG.
- Kenaikan suku bunga global dan kebijakan fiskal domestik turut mempengaruhi pergerakan rupiah dan aliran modal asing.
- Pelaku pasar disarankan mencermati saham sektor komoditas dan energi yang berpotensi diuntungkan oleh situasi geopolitik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergulat dengan tekanan dari berbagai sisi, mulai dari ketidakpastian pasar global hingga konflik geopolitik yang belum mereda. Analis menilai sentimen negatif ini berpotensi memperpanjang koreksi, namun di sisi lain membuka celah bagi sektor-sektor tertentu yang justru diuntungkan.
FX Analyst CNBC Indonesia Research, Elvan Chandra Widyatama, mengidentifikasi sejumlah faktor yang saat ini menjadi momok bagi investor. Salah satu yang paling disorot adalah pergerakan indeks MSCI, yang kerap menjadi acuan aliran dana asing. "Kekhawatiran terhadap indeks MSCI masih membayangi pasar dan akan mempengaruhi laju IHSG," ujarnya dalam program Squawk Box, Selasa (2/6/2026).
Selain itu, eskalasi perang di Timur Tengah menjadi katalis negatif yang sulit diabaikan. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi dan komoditas, yang pada gilirannya memicu tekanan inflasi global. Bank sentral di berbagai negara pun merespons dengan menaikkan suku bunga, menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat bagi pasar emerging market seperti Indonesia.
Dari dalam negeri, arah kebijakan fiskal pemerintah dan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) turut menjadi perhatian. Kebijakan ini dinilai dapat mempengaruhi pasokan valuta asing dan stabilitas nilai tukar rupiah. "Perkembangan perang Timur Tengah, kenaikan suku bunga bank sentral, serta kebijakan fiskal dan DHE SDA akan mempengaruhi pergerakan rupiah," tambah Elvan.
Meski tekanan cukup kuat, bukan berarti tidak ada peluang. Elvan menyarankan investor untuk mencermati saham-saham di sektor yang terkait dengan komoditas dan energi. Kenaikan harga minyak dan bahan baku akibat konflik geopolitik dapat menjadi katalis positif bagi emiten di sektor tersebut. "Saham sektor komoditas dan energi bisa menjadi pilihan yang menarik di tengah ketidakpastian ini," jelasnya.
Bagi pelaku pasar domestik, situasi ini mengingatkan pentingnya diversifikasi portofolio dan fokus pada fundamental perusahaan. Analis juga menekankan perlunya mencermati kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan, terutama terkait suku bunga acuan yang dapat mempengaruhi daya tarik aset rupiah.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan sikap bank sentral global. Jika ketegangan mereda dan suku bunga mulai stabil, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguat. Namun, jika sebaliknya, koreksi masih berpeluang berlanjut. Pertanyaan besarnya, akankah investor asing kembali masuk jika ketidakpastian mulai berkurang?



