Jepang-Korsel Pulihkan Hubungan: Latihan SAR Bersama Digelar Setelah Sembilan Tahun Vakum
Baca dalam 60 detik
- Jepang dan Korea Selatan akan menggelar latihan pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan pada 7 Juni, untuk pertama kalinya sejak 2017.
- Pemulihan latihan ini menandai meredanya ketegangan diplomatik yang dipicu insiden radar pada 2018, serta membuka peluang kerja sama pertahanan yang lebih luas.
- Langkah ini berpotensi memperkuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang respons Korea Utara dan keseimbangan kekuatan di Asia Timur.

Jepang dan Korea Selatan akhirnya mencairkan kebekuan hubungan pertahanan yang berlangsung hampir satu dekade. Kedua negara sepakat menggelar latihan pencarian dan penyelamatan (search-and-rescue/SAR) gabungan pada 7 Juni mendatang, setelah terakhir kali dilakukan pada 2017. Keputusan ini diumumkan Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu Back di sela pertemuan dengan mitranya dari Jepang, Shinjiro Koizumi, di sela Forum Keamanan Shangri-La di Singapura, Sabtu (31/5).
Latihan yang melibatkan Angkatan Laut Korea Selatan dan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang ini menjadi simbol pemulihan hubungan bilateral yang sempat membeku akibat insiden radar pada Desember 2018. Saat itu, Jepang menuding sebuah kapal perusak Korea Selatan mengunci radar pengendali tembakan ke pesawat patroli Jepang di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang. Seoul membantah tuduhan tersebut, namun ketegangan berujung pada penghentian berbagai program pertukaran pertahanan, termasuk latihan SAR.
Kesepakatan untuk menghidupkan kembali latihan ini sejatinya telah diraih saat pertemuan Koizumi dan Ahn di Yokosuka, dekat Tokyo, pada Januari lalu. Langkah itu merupakan bagian dari upaya lebih luas memperbaiki kerja sama pertahanan di tengah dinamika keamanan kawasan yang kian kompleks. "Penting bagi Jepang dan Korea Selatan untuk mengambil peran proaktif dalam mendorong perdamaian dan stabilitas Indo-Pasifik, termasuk memperkuat daya gentar melalui aliansi dengan Amerika Serikat," ujar Koizumi dalam pernyataannya.
Pemulihan latihan SAR ini tidak berdiri sendiri. Di sela forum yang sama, Koizumi juga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. Keduanya sepakat mempercepat kerja sama pengembangan dan produksi rudal canggih, termasuk Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile (AMRAAM) dan Standard Missile-3 Block IIA. Langkah ini menegaskan komitmen aliansi Jepang-AS dalam memperkuat daya gentar di kawasan, terutama merespons aktivitas militer China yang kian ekspansif.
Koizumi juga memaparkan kepada Hegseth mengenai kebijakan baru Jepang yang melonggarkan pembatasan ekspor alat pertahanan, yang diadopsi pada April lalu. Hegseth menyambut positif perubahan kebijakan tersebut. Namun, ketika ditanya apakah AS mendesak Jepang menaikkan anggaran pertahanan hingga angka tertentu, Koizumi mengelak. "Pihak AS menyinggung soal belanja pertahanan, tapi kami tidak membahas angka atau target spesifik," katanya kepada wartawan.
Dalam pertemuan terpisah, Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyambut baik rencana kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke Inggris. Takaichi disebut-sebut akan berkunjung ke London sebelum menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis pada 15-17 Juni. Koizumi dan Healey juga menegaskan komitmen terhadap program Global Combat Air Program (GCAP), proyek pengembangan jet tempur generasi berikutnya yang melibatkan Jepang, Inggris, dan Italia.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang juga aktif dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik, pemulihan hubungan pertahanan Jepang-Korsel dapat memperkuat stabilitas kawasan. Namun, peningkatan kerja sama militer kedua negara, terutama dengan AS, berpotensi memicu reaksi dari Korea Utara dan China. Jakarta perlu mencermati perkembangan ini dalam konteks kebijakan luar negeri bebas aktif, terutama terkait pengelolaan Laut China Selatan dan Semenanjung Korea.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana latihan SAR ini akan menjadi batu loncatan bagi kerja sama pertahanan yang lebih substantif antara Tokyo dan Seoul. Akankah kedua negara mampu mengesampingkan luka masa lalu dan membangun mekanisme keamanan bersama di kawasan? Atau justru sebaliknya, latihan ini hanya menjadi seremoni diplomatis tanpa dampak jangka panjang? Jawabannya akan terlihat dari konsistensi tindakan kedua negara dalam beberapa bulan mendatang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)
