Scooter Braun Dukung Spencer Pratt Maju Calon Wali Kota LA: Suara Rakyat yang Frustrasi
Baca dalam 60 detik
- Scooter Braun memuji kampanye Spencer Pratt yang dinilai membawa isu-isu yang selama ini diabaikan dalam politik Los Angeles.
- Pratt mengancam akan meninggalkan LA jika gagal menang, setelah rumahnya hancur dalam kebakaran dan menggugat pemerintah kota.
- Dukungan figur hiburan seperti Braun menunjukkan pergeseran politik di mana selebritas menjadi corong kekecewaan publik.

Manajer musik kenamaan Scooter Braun secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Spencer Pratt, mantan bintang reality show yang kini mencalonkan diri sebagai wali kota Los Angeles. Dalam sebuah wawancara di podcast Second Thought, Braun menilai bahwa apa yang dilakukan Pratt adalah bentuk keberanian untuk menyuarakan hal-hal yang selama ini luput dari perhatian publik.
โSaya sangat menghargai apa yang Spencer lakukan. Ia membawa banyak isu ke permukaan yang sebelumnya tidak pernah diangkat oleh siapa pun,โ ujar Braun, yang saat ini tengah menjalin hubungan dengan aktris Sydney Sweeney. Menurut Braun, Pratt berbicara atas nama banyak warga yang frustrasi dan mendambakan pendekatan yang lebih lugas serta akal sehat dalam pemerintahan kota.
Pratt, yang berusia 42 tahun, meluncurkan kampanye pencalonannya pada awal tahun ini. Ia dikenal sebagai kritikus vokal terhadap petahana Karen Bass dan kandidat lainnya seperti Nithya Raman. Dalam pernyataan terpisah kepada komedian Adam Carolla, Pratt mengancam akan meninggalkan Los Angeles jika ia tidak terpilih. โJika Karen Bass terpilih kembali, atau Nithya Raman menang, saya akan selesai dengan upaya hidup di Los Angeles,โ tegasnya.
Keputusan Pratt untuk maju sebagai calon wali kota tidak lepas dari pengalaman pribadinya. Pada 2025, ia bersama istrinya, Heidi Montag, menggugat Pemerintah Kota Los Angeles dan Departemen Air dan Listrik (LADWP) setelah rumah mereka ludes dilalap si jago merah di kawasan Pacific Palisades. Pratt mengaku akan menggunakan uang ganti rugi dari gugatan tersebut untuk memulai hidup baru di negara bagian lain. โSaya akan mengambil uang itu dari taman negara bagian Gavin Newsom dan LADWP, lalu pergi ke tempat di mana anak-anak saya tidak harus melihat zombie telanjang, dan saya bisa mendapatkan mimpi Amerika terakhir di suatu tempat,โ katanya.
Fenomena ini menarik diamati dari perspektif Indonesia, di mana figur publik kerap memanfaatkan popularitas untuk memasuki panggung politik. Di Tanah Air, sejumlah artis dan tokoh hiburan telah sukses menempati kursi legislatif maupun eksekutif, seperti Rano Karno dan Nurul Arifin. Namun, berbeda dengan Pratt yang mengancam hengkang jika gagal, politisi selebritas Indonesia cenderung bertahan dan membangun basis massa. Dukungan Braun terhadap Pratt juga mengingatkan pada endorsement politik di Indonesia, di mana tokoh industri kreatif kerap memberikan sinyal dukungan kepada kandidat tertentu, meskipun tidak selalu secara terbuka.
Pratt sendiri menegaskan bahwa ia tidak akan membangun kembali rumahnya di Los Angeles jika para petahana masih berkuasa. โApa gunanya saya menanamkan uang di sini?โ ujarnya sinis. Sikap ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap birokrasi dan penanganan bencana yang dinilainya lamban. Pertanyaan besarnya kini: apakah kampanye ala selebritas yang blak-blakan ini mampu menggeser mesin politik tradisional di Los Angeles, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah pemilu kota?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)
