Prajogo Pangestu Kokoh di Puncak, Dua Konglomerat Baru Masuk 10 Terkaya RI Mei 2026
Baca dalam 60 detik
- Prajogo Pangestu mempertahankan posisi orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$20,9 miliar, meskipun saham afiliasinya tertekan.
- Low Tuck Kwong dan keluarga Hartono masih mendominasi berkat sektor batu bara dan perbankan, namun koreksi pasar saham mulai menggerus nilai aset.
- Mariana Budiman masuk jajaran 10 besar berkat bisnis pusat data yang tumbuh pesat, menandai pergeseran ke ekonomi digital.

Prajogo Pangestu kembali memuncaki daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes pada Mei 2026 dengan kekayaan mencapai US$20,9 miliar atau setara Rp372 triliun. Meskipun saham-saham perusahaan afiliasinya mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir, taipan petrokimia dan energi ini tetap tak tergoyahkan di posisi pertama.
Perubahan signifikan terjadi di jajaran bawah, di mana dua nama baru berhasil menyusup ke 10 besar. Mariana Budiman, pengusaha pusat data, menempati peringkat kedelapan dengan kekayaan US$6 miliar, sementara Haryanto Tjiptodiharjo dari sektor manufaktur mengisi posisi kesepuluh dengan US$5 miliar. Masuknya Mariana menandai pergeseran penting: dari dominasi tambang dan rokok menuju ekonomi digital.
Di posisi kedua, Low Tuck Kwong masih bertahan dengan kekayaan US$16,5 miliar, ditopang oleh bisnis batu bara yang sempat menikmati supercycle harga komoditas. Namun, volatilitas harga batu bara global dan tekanan terhadap energi terbarukan mulai membayangi prospek jangka panjangnya. Sementara itu, R. Budi Hartono dan Michael Hartono masing-masing mengantongi US$15,8 miliar dan US$15 miliar dari imperium perbankan dan rokok merekaโsektor yang relatif stabil meski ada tekanan regulasi.
Bagi investor Indonesia, daftar ini memberikan gambaran tentang sektor-sektor yang masih menjadi andalan perekonomian nasional. Energi, perbankan, dan tambang masih mendominasi, tetapi kehadiran bisnis data center menunjukkan bahwa digitalisasi mulai menciptakan nilai besar. Mariana Budiman, misalnya, berhasil memanfaatkan ledakan permintaan layanan cloud dan penyimpanan data di dalam negeri, sejalan dengan transformasi digital yang digenjot pemerintah.
Namun, ada catatan penting: koreksi pasar saham sepanjang tahun berjalan telah menggerus nilai aset beberapa konglomerat. Sri Prakash Lohia, misalnya, turun ke peringkat ketujuh dengan kekayaan US$8,8 miliar, sementara Anthoni Salim dan keluarga Tahir masing-masing bertahan di posisi kelima dan keenam dengan US$11,9 miliar dan US$9,7 miliar. Fluktuasi ini mengingatkan bahwa kekayaan kertas sangat rentan terhadap sentimen pasar global, terutama bagi mereka yang bergantung pada harga komoditas.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah sektor digital mampu menggeser dominasi tambang dan rokok dalam satu dekade ke depan? Masuknya Mariana Budiman bisa menjadi sinyal awal, tetapi tantangan regulasi dan persaingan global masih menjadi batu sandungan. Satu hal yang pasti, peta kekayaan Indonesia perlahan bergeserโdan investor perlu mencermati arah angin ini.



