Harga Minyak Kembali Meroket: Selat Hormuz Jadi Taruhan Utama Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI mencatat kenaikan harian terbesar dalam sebulan terakhir, masing-masing ke US$94,98 dan US$92,16 per barel, didorong ketidakpastian negosiasi AS-Iran.
- Selat Hormuz yang menghantarkan seperlima pasokan minyak dunia masih terblokade, membuat premi risiko tetap tinggi dan volatilitas harga tak terhindarkan.
- Ekspor minyak AS mencapai rekor 5,6 juta barel per hari di tengah permintaan alternatif dari Asia dan Eropa, memberi sedikit ruang napas bagi pasar global.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa pagi (2/6/2026), memperpanjang reli tajam yang terjadi sehari sebelumnya. Pergerakan ini dipicu oleh belum adanya titik terang dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, terutama terkait nasib Selat Hormuz—jalur vital yang selama berminggu-minggu menjadi sumber ketidakpastian pasokan energi global.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.15 WIB, kontrak Brent naik ke level US$94,98 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$92,16 per barel. Dalam sepekan terakhir, Brent melesat 3,18% dari posisi 29 Mei, sedangkan WTI meroket 5,49%—kenaikan harian tertajam sejak ketegangan Timur Tengah kembali memanas. Meski demikian, harga saat ini masih jauh di bawah puncak 20 Mei, saat Brent sempat menyentuh US$105,02 dan WTI US$98,26.
Fokus utama pasar tertuju pada dinamika hubungan Washington-Teheran. Presiden AS Donald Trump pada Senin waktu setempat menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, meskipun media Iran, Tasnim, sebelumnya melaporkan bahwa Teheran menghentikan negosiasi tidak langsung. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini membuat volatilitas harga tetap tinggi. Trump bahkan mengungkapkan harapannya agar kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu sekitar satu pekan.
Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pasar energi global. Sejak konflik pecah, Iran secara efektif menghambat sebagian besar aktivitas pelayaran non-Iran di Teluk Persia. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, menjadi titik rawan yang membuat premi risiko tetap melekat pada harga minyak. Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa investor saat ini menunggu bukti nyata—baik kemajuan maupun kemunduran—dari negosiasi AS-Iran. Selama risiko gangguan pasokan masih tinggi, harga minyak sulit turun signifikan.
Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dukungan dari ekspektasi penurunan persediaan minyak mentah AS. Survei awal Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS berkurang sekitar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei. Jika terkonfirmasi, penurunan ini akan melanjutkan tren penyusutan stok pekan sebelumnya. Di saat bersamaan, ekspor minyak mentah AS mencapai rekor 5,6 juta barel per hari sepanjang Mei, didorong oleh permintaan tinggi dari kilang-kilang di Asia dan Eropa yang berupaya mencari pasokan alternatif akibat gangguan pengiriman dari Timur Tengah.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak ini memiliki implikasi langsung terhadap anggaran negara dan harga energi domestik. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak membebani subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi. Kementerian Keuangan sebelumnya telah mengalokasikan tambahan subsidi BBM dan LPG dalam APBN 2026, namun lonjakan harga di atas asumsi makro (US$85 per barel) dapat memicu tekanan fiskal. Di sisi lain, perusahaan migas nasional seperti Pertamina dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bisa menikmati kenaikan pendapatan dari ekspor minyak mentah, meskipun volume terbatas.
Ke depan, pasar masih akan bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran. Jika kesepakatan tercapai dalam sepekan, harga minyak berpotensi turun kembali ke kisaran US$85-90 per barel. Namun, jika ketegangan berlanjut atau eskalasi baru terjadi, bukan tidak mungkin harga menembus level psikologis US$100 per barel lagi. Pertanyaan besarnya: seberapa cepat para pelaku pasar bisa mendapatkan kepastian dari Washington dan Teheran?



