BEI Kembali Masukkan Tiga Emiten ke Daftar Saham Konsentrasi Tinggi, Waspadai Risiko Likuiditas
Baca dalam 60 detik
- Bursa Efek Indonesia menambah tiga emiten baru ke daftar High Shareholding Concentration (HSC), yaitu WBSA, TCPI, dan MGRO, dengan kepemilikan saham di atas 93%.
- Daftar HSC bertujuan mengidentifikasi saham dengan likuiditas rendah akibat konsentrasi kepemilikan, bukan indikasi pelanggaran hukum.
- Investor ritel perlu mencermati risiko kesulitan jual-beli saham yang masuk daftar HSC, terutama saat terjadi aksi korporasi atau tekanan pasar.

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperbarui daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), kali ini memasukkan tiga emiten baru yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh segelintir pemegang saham. Langkah ini menjadi sinyal bagi investor untuk lebih waspada terhadap potensi risiko likuiditas yang melekat pada saham-saham tersebut.
Tiga emiten yang masuk dalam daftar HSC terbaru adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), dan PT Mahkota Group Tbk (MGRO). Berdasarkan data BEI dan KSEI per 2 April 2026, konsentrasi kepemilikan saham WBSA mencapai 95,82%, TCPI 94,10%, dan MGRO 93,76%. Artinya, lebih dari 93% saham ketiga perusahaan tersebut dikuasai oleh sejumlah kecil pemegang saham, menyisakan porsi yang sangat tipis untuk diperdagangkan di publik.
Dalam keterbukaan informasi BEI, manajemen menegaskan bahwa masuknya emiten ke daftar HSC tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan perundang-undangan di pasar modal. "Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal," tulis manajemen mengutip pernyataan BEI. Namun, daftar ini tetap menjadi alat penting bagi investor untuk mengukur tingkat risiko likuiditas dan potensi volatilitas harga saham.
Sebelumnya, BEI telah memasukkan sejumlah emiten besar ke dalam daftar HSC, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik konglomerat Prajogo Pangestu dengan konsentrasi 97,31%, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bagian dari Sinar Mas Grup dengan konsentrasi 95,76%. Daftar HSC juga mencakup emiten lain seperti PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) dengan konsentrasi 99,85%, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) 99,77%, dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) 98,35%.
Bagi investor ritel di Indonesia, daftar HSC menjadi peringatan dini bahwa saham-saham tersebut memiliki risiko likuiditas yang tinggi. Dalam praktiknya, saham dengan konsentrasi kepemilikan di atas 95% cenderung sulit diperjualbelikan karena hanya sedikit saham yang beredar di publik. Kondisi ini dapat menyebabkan harga saham bergerak tidak wajar, baik melonjak tajam saat ada permintaan tinggi maupun anjlok saat terjadi aksi jual besar-besaran. Analis pasar modal menilai bahwa investor yang memegang saham HSC harus memiliki strategi keluar yang jelas dan tidak bergantung pada likuiditas harian.
Ke depan, BEI diperkirakan akan terus memperbarui daftar HSC secara berkala seiring dengan perubahan struktur kepemilikan saham emiten. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah regulator akan mengambil langkah lebih lanjut, seperti mewajibkan perusahaan dengan konsentrasi sangat tinggi untuk melakukan penawaran umum sekunder atau memperluas basis pemegang saham publik demi meningkatkan likuiditas. Sementara itu, investor disarankan untuk selalu memeriksa daftar HSC sebelum mengambil keputusan investasi, terutama pada saham-saham yang jarang diperdagangkan.



