Intel dan 3DGS Tanam Investasi Rp 53 Triliun di India, Pabrik Substrat Canggih Dibangun
Baca dalam 60 detik
- Raksasa semikonduktor AS, Intel, bersama 3DGS Inc. menggelontorkan dana 3,3 miliar dolar AS untuk membangun pabrik substrat di Odisha, India.
- Proyek ini diproyeksikan menyerap lebih dari 1.800 tenaga kerja terampil dan menjadi bagian dari strategi India mengurangi ketergantungan impor chip.
- Pabrik di Bhubaneswar-Khurda akan memproduksi substrat kaca dan interkoneksi kepadatan tinggi, memperkuat posisi India dalam rantai pasok global.
Intel Corporation bersama 3DGS Inc. memutuskan untuk membangun pabrik substrat semikonduktor senilai 3,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 53 triliun) di negara bagian Odisha, India timur. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa India semakin diperhitungkan sebagai basis manufaktur chip global, di tengah upaya negara itu mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Pemerintah India, melalui pernyataan resmi pada Jumat (29/5), mengonfirmasi bahwa proyek tersebut akan berlokasi di kawasan Bhubaneswar-Khurda dan ditargetkan rampung dalam kurun waktu lima hingga enam tahun. Pabrik ini akan fokus pada produksi substrat inti kaca untuk pengemasan canggih (advanced packaging glass core substrates) serta substrat interkoneksi kepadatan tinggi (high-density interconnect substrates). Kedua komponen ini merupakan material dasar yang digunakan untuk menempelkan elemen-elemen dalam perangkat semikonduktor.
Investasi ini merupakan bagian dari strategi besar Perdana Menteri Narendra Modi yang dikenal dengan kebijakan Make in India. New Delhi telah mengalokasikan subsidi miliaran dolar untuk menarik perusahaan semikonduktor global, termasuk melalui skema insentif terkait produksi (production-linked incentive). Langkah ini tidak hanya bertujuan membangun kemandirian di sektor chip, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. India dan Indonesia sama-sama berlomba menjadi pusat manufaktur semikonduktor di Asia. Namun, India telah bergerak lebih cepat dengan mengamankan komitmen investasi dari raksasa seperti Intel dan Foxconn. Sementara itu, Indonesia masih dalam tahap awal pengembangan ekosistem chip, meskipun pemerintah telah meluncurkan peta jalan (roadmap) industri semikonduktor nasional. Tanpa langkah konkret dan insentif yang kompetitif, Indonesia berisiko tertinggal dalam perebutan investasi teknologi tinggi di kawasan.
Menurut analis industri, pabrik substrat ini juga akan memperkuat rantai pasok global semikonduktor yang selama ini terkonsentrasi di Taiwan, Korea Selatan, dan China. Dengan hadirnya fasilitas produksi di India, perusahaan-perusahaan teknologi dapat mendiversifikasi risiko geopolitik sekaligus mendekatkan produksi ke pasar Asia Selatan yang tumbuh pesat. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Indonesia mampu menyusul dengan menawarkan insentif serupa atau justru akan menjadi pasar bagi produk-produk chip buatan India?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
