Berardi Rindu Timnas Italia, Sindir Serie A Terlalu Taktis
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Sassuolo Domenico Berardi mengaku ingin kembali membela tim nasional Italia setelah pulih dari cedera Achilles.
- Ia menilai Serie A terlalu taktis dan merindukan gaya bermain bebas ala Roberto De Zerbi yang lebih menghibur.
- Berardi membuka peluang hengkang ke klub Liga Champions, asalkan diberi peran utama, bukan sekadar pelengkap.

Domenico Berardi, winger veteran Sassuolo yang turut membawa Italia juara Euro 2020, menyatakan kerinduannya untuk kembali mengenakan seragam biru Gli Azzurri. Di usianya yang menginjak 31 tahun, pemain yang sempat berpikir untuk pensiun akibat cedera tendon Achilles pada 2024 itu kini merasa lebih matang dan siap bersaing di level tertinggi.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Berardi melontarkan kritik tajam terhadap wajah Serie A saat ini. Menurutnya, kompetisi kasta tertinggi Italia terlalu mengutamakan taktik hingga mengorbankan kreativitas. “Anda berusaha tampil baik demi hasil, bukan gaya bermain. Di bawah Roberto De Zerbi, kami seperti dikendalikan joystick, tapi sangat menyenangkan. Sekarang, di lapangan saya melihat banyak tentara,” ujarnya.
Perbandingan itu mengacu pada masa kejayaan Sassuolo era De Zerbi (2018–2021), ketika klub asal Emilia-Romagna itu dikenal dengan sepak bola atraktif. Kini, Berardi menilai banyak pemain hanya menjalankan instruksi tanpa kebebasan berekspresi. Meski demikian, ia tetap mengakui Serie A sebagai liga yang sulit, terutama bagi tim promosi seperti Sassuolo yang musim lalu baru kembali dari Serie B.
Berardi mengakui bahwa cedera berat sempat menghancurkan mentalnya. “Setelah cedera 2024, saya melewati masa-masa sulit. Secara mental, saya ingin berhenti. Tapi hati dan tubuh saya tidak mengizinkan. Untungnya, mereka menang,” kenangnya. Kini ia menikmati setiap momen di lapangan dengan perspektif baru, meninggalkan pikiran gelap yang pernah menghantuinya.
Soal masa depan, pemain yang sepanjang karier hanya membela Sassuolo itu membuka pintu untuk hengkang, namun dengan syarat. Ia hanya akan pindah jika menjadi bagian proyek yang memberinya peran sentral, bukan sekadar pemain pelapis. “Saya ingin bermain di Liga Champions sebagai figur kunci, bukan peran pendukung,” tegasnya. Ketertarikan klub-klub besar Italia seperti Juventus atau Inter pernah ada, tetapi negosiasi selalu kandas karena hanya dua pihak yang sepakat.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Berardi menjadi cermin bagaimana pemain bisa bertahan lama di satu klub meski memiliki ambisi besar. Fenomena ini jarang terjadi di Liga Indonesia, di mana mobilitas pemain lebih tinggi. Namun, dedikasi Berardi kepada Sassuolo patut diapresiasi, sekaligus menunjukkan bahwa kesetiaan dan ambisi bisa berjalan beriringan asalkan ada proyek yang jelas.
Berardi menegaskan tidak ingin sekadar bertahan hingga pensiun tanpa gairah. “Saya tidak ingin hanyut atau perlahan memudar. Saat waktunya tiba, saya ingin pergi sebagai protagonis,” pungkasnya. Pertanyaan besarnya: akankah ia mendapatkan kesempatan emas untuk kembali ke timnas Italia dan mentas di Liga Champions sebelum gantung sepatu?



