Dari Ruang Sidang ke Panggung Dunia: Frances Tan Wakili Singapura di Commonwealth Song Contest
Baca dalam 60 detik
- Frances Tan, lulusan hukum LSE, melaju ke final Commonwealth Song Contest 2026 dengan lagu Just Me.
- Kontes ini diikuti 2,5 miliar orang dari 56 negara Persemakmuran, dengan tujuh finalis termasuk dari Australia dan India.
- Pada 31 Mei, Tan menggelar konser gratis peluncuran album debut I Am Frances bertepatan penutupan voting publik.

Frances Tan Si Min, penyanyi-penulis lagu asal Singapura yang sebelumnya menekuni dunia hukum, kini bersaing di panggung internasional. Lagu ciptaannya, Just Me, terpilih sebagai salah satu dari tujuh finalis Commonwealth Song Contest 2026, sebuah kompetisi yang menjaring talenta dari 56 negara Persemakmuran dengan total populasi 2,5 miliar jiwa.
Perempuan 25 tahun ini bukanlah pendatang baru di industri musik. Sebelum menekuni musik secara serius, Tan menyelesaikan pendidikan hukum di London School of Economics and Political Science (LSE) dan sempat magang di firma hukum terkemuka. Namun, panggilan untuk bermusik yang telah ia pendam sejak usia 13 tahun akhirnya tak terbendung. "Saya sadar suara kecil di dalam diri yang saya abaikan selama sepuluh tahun tidak pernah pergi," ujarnya.
Keputusan untuk beralih karier membawanya ke New York University (NYU) untuk meraih gelar master dalam penulisan lagu. Di sanalah Just Me lahir dalam satu kali duduk. Lagu ini sebelumnya memenangkan kategori singer-songwriter di UK Songwriting Contest 2024 sebelum menembus final Commonwealth Song Contest. Saat ini, Tan bersaing dengan perwakilan dari Australia, India, Nigeria, Inggris, Saint Lucia, dan Afrika Selatan.
Voting publik yang berlangsung hingga 31 Mei akan menentukan sebagian hasil, sebelum dewan juri yang terdiri dari 10.000 profesional musik memberikan penilaian akhir. Bagi Tan, keterpilihannya mewakili Singapura di ajang bergengsi ini merupakan kehormatan besar. "Dari 2,5 miliar orang, menjadi satu dari tujuh finalis adalah mimpi yang menjadi nyata," katanya.
Di luar kompetisi, Tan juga mencuri perhatian lewat lagu tribute Ride Into The Sun yang dipersembahkan untuk mengenang 10 tahun wafatnya Lee Kuan Yew dalam rangka perayaan SG60. Lagu tersebut diputar di berbagai sekolah, bioskop, dan stasiun radio lokal, serta mengantarkannya meraih BOLD Award dari SG100 Foundation. Tak hanya itu, Tan kini aktif mengunjungi sekolah dasar untuk berbicara dalam program Character and Citizenship Education, dan telah menulis buku Discover Your Passion yang mengisahkan perjalanan kariernya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, perjalanan Tan bisa menjadi inspirasi bahwa latar belakang pendidikan formal bukanlah halangan untuk mengejar mimpi di industri kreatif. Terlebih, ajang Commonwealth Song Contest membuka peluang bagi musisi dari negara berkembang untuk bersaing di panggung global. Pertanyaannya, akankah ada perwakilan Indonesia di masa depan?
Pada 31 Mei, bertepatan dengan penutupan voting, Tan akan menggelar konser gratis di Jubilee Garden Restaurant, SAFRA Toa Payoh, untuk meluncurkan album perdananya I Am Frances. Acara yang dimulai pukul 18.30 ini akan menampilkan live band, kuartet gesek, dan prasmanan Tionghoa. Album tersebut akan dirilis secara resmi di platform streaming pada 1 Juni. Publik dapat memberikan dukungan dengan memilih Just Me melalui situs Commonwealth Song Contest hingga batas waktu yang sama.



