Ketika 15.000 Fans Membuat Syuting Saturday Night Fever Berantakan
Baca dalam 60 detik
- Kerumunan 15.000 penggemar John Travolta memaksa kru menggunakan jadwal palsu dan syuting subuh untuk menyelesaikan film.
- Sutradara John Badham mengungkapkan bahwa popularitas Travolta dari serial TV justru menghambat produksi di lokasi Brooklyn.
- Strategi kreatif seperti mobil kembar dan call sheet palsu akhirnya gagal karena warga setempat mulai menebak taktik kru.

Ledakan popularitas John Travolta di akhir 1970-an nyata menghentikan produksi film legendaris Saturday Night Fever—bukan karena masalah artistik, melainkan karena ribuan penggemar memadati lokasi syuting di Brooklyn. Sutradara John Badham mengungkapkan bahwa pada hari pertama pengambilan gambar, kerumunan massa mencapai 15.000 orang, membuat kru tak mampu menyelesaikan satu adegan pun sebelum tengah hari.
Badham, yang kini berusia 86 tahun, menceritakan pengalaman itu dalam podcast It Happened in Hollywood milik The Hollywood Reporter. Menurutnya, saat itu Travolta baru berusia 22 tahun dan sudah menjadi bintang televisi lewat perannya sebagai Vinnie Barbarino dalam sitkom Welcome Back, Kotter. Popularitas dari layar kaca itulah yang justru menjadi bumerang ketika syuting dimulai di jalan-jalan Brooklyn pada 1977.
“Kami hanya ingin mengambil gambar John membeli kemeja di toko, tapi ada 15.000 orang di jalanan Brooklyn yang masuk ke setiap bidikan kamera,” kenang Badham. Awalnya hanya sekitar delapan hingga sepuluh penggemar yang berkumpul, namun dalam hitungan jam jumlahnya membengkak menjadi ribuan. Para penggemar, terutama anak-anak perempuan, berteriak memanggil nama karakter televisi Travolta, bukan Tony Manero yang diperankannya di film tersebut.
Untuk mengatasi kekacauan itu, tim produksi menerapkan berbagai taktik. Mereka memulai syuting pada pukul 06.30 pagi, sebelum warga bangun, lalu bersembunyi di set interior seperti toko cat. Kru juga membuat jadwal syuting palsu dan menggunakan dua mobil Travolta yang identik—satu sebagai umpan, satu lagi untuk syuting sesungguhnya. Namun, warga Brooklyn yang cerdik mulai menebak pola tersebut, memaksa kru terus berinovasi.
Badham memuji pemahaman Travolta terhadap karakter Tony Manero. “Dia mengerti karakter itu jauh lebih baik daripada saya. John tahu persis dari mana asalnya dan apa yang dia pikirkan tentang dirinya sendiri,” ujar sang sutradara. Pemahaman itulah yang kemudian membuat penampilan Travolta begitu ikonik, membawanya menjadi superstar global setelah film tersebut dirilis.
Saturday Night Fever tidak hanya melambungkan nama Travolta, tetapi juga menjadi fenomena budaya yang mendefinisikan era disko. Soundtrack yang digarap Bee Gees—dengan lagu seperti Stayin’ Alive, Night Fever, dan How Deep Is Your Love—menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa. Film ini juga membuka jalan bagi kesuksesan Travolta di Grease, Pulp Fiction, dan Face/Off.
Bagi industri perfilman Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa popularitas aktor bisa menjadi pedang bermata dua. Di era media sosial saat ini, fenomena kerumunan penggemar justru semakin mudah terjadi, terutama di lokasi syuting yang terbuka. Pertanyaannya, apakah rumah produksi Tanah Air sudah siap dengan strategi pengamanan yang setara dengan yang dilakukan Badham hampir lima dekade lalu?



