Kunjungan Menteri Luar Negeri Singapura ke Pyongyang: Korea Utara Kian Menutup Diri dari Dunia Luar
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai Korea Utara saat ini lebih fokus pada kemandirian dan pencegahan militer, bukan pada keterlibatan eksternal.
- Dalam kunjungan pertamanya ke Pyongyang dalam delapan tahun, Balakrishnan melihat kemajuan infrastruktur yang pesat namun sikap keras terhadap reunifikasi dengan Korea Selatan.
- Singapura mengundang Korea Utara kembali ke forum ASEAN Regional Forum, sementara hubungan Pyongyang dengan Rusia menguat dan dengan AS tetap dingin.

Korea Utara menunjukkan keengganan yang semakin nyata untuk membuka diri terhadap dunia luar, demikian penilaian Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan usai melakukan kunjungan langka ke Pyongyang pada 26-27 Mei lalu. Dalam pernyataannya di Seoul, Balakrishnan mengungkapkan bahwa rezim Kim Jong-un saat ini lebih memprioritaskan penguatan kemandirian dan pencegahan militer ketimbang menjalin komunikasi dengan negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Jepang.
Kunjungan yang dilakukan dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Singapura-Korea Utara ini menjadi momen pertama bagi Balakrishnan menginjakkan kaki di Pyongyang sejak 2018. Saat itu, ia datang untuk mempersiapkan pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Kim Jong-un di Singapura. Kini, lanskap geopolitik Semenanjung Korea telah berubah drastis. Balakrishnan mencatat bahwa Pyongyang kini menjalin hubungan yang lebih erat dengan Moskow, sementara Beijing tetap menjadi mitra yang tak tergantikan bagi negara yang kerap disebut hermit kingdom itu.
Meskipun ada spekulasi bahwa kunjungan ini bisa membuka peluang bagi Singapura untuk menjadi mediator dalam perundingan AS-Korea Utara, Balakrishnan dengan tegas membantahnya. Ia menegaskan bahwa tujuannya semata-mata untuk memperbarui informasi tentang perkembangan di Korea Utara dan mempererat hubungan bilateral. "Saya pergi karena diundang oleh DPRK untuk memperingati 50 tahun hubungan diplomatik. Saya juga ingin memperbarui pengetahuan saya tentang perkembangan di sana," ujarnya menanggapi pertanyaan dari The Straits Times.
Satu hal yang menonjol dari kunjungan ini adalah perubahan sikap Pyongyang terhadap reunifikasi dengan Korea Selatan. Balakrishnan mengamati bahwa Korea Utara kini benar-benar menutup kemungkinan penyatuan kembali kedua negara. Sikap ini bahkan sudah dituangkan dalam amendemen konstitusi pada Maret lalu, di mana semua referensi tentang reunifikasi dihapus dan diganti dengan klausul yang mendefinisikan wilayah Korea Utara sebagai daerah yang berbatasan dengan China dan Rusia di utara, serta "Republik Korea di selatan".
Meskipun tertutup secara diplomatik, Balakrishnan mengakui bahwa Pyongyang telah menunjukkan "kemajuan yang luar biasa" dalam pembangunan infrastruktur selama delapan tahun terakhir. Ia menggambarkan kota Pyongyang sebagai kota yang bersih, modern, tertata rapi, dan setara dengan kota-kota besar di Asia Tenggara maupun Asia Timur Laut. "Dalam delapan tahun sejak saya ke sana, Pyongyang terus tumbuh dan berkembang. Saya melihat kompleks perumahan baru. Ini adalah kota yang bersih, modern, terorganisir dengan baik," katanya.
Dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui dan Ketua Komite Tetap Majelis Rakyat Tertinggi Jo Yong Won, Balakrishnan menyampaikan undangan bagi Korea Utara untuk kembali berpartisipasi dalam ASEAN Regional Forum (ARF) yang akan digelar di Manila pada 23 Juli mendatang. Korea Utara tercatat absen dari forum tahunan tersebut untuk pertama kalinya pada 2025 saat digelar di Kuala Lumpur, karena tidak diundang oleh Malaysia akibat putusnya hubungan diplomatik sejak 2021. "Saya mengatakan kepadanya bahwa suara DPRK masih penting untuk didengar di panggung internasional, dan untuk mencari kesempatan yang tepat dengan cara, waktu, dan prioritas politik mereka sendiri untuk terus terlibat dengan dunia yang lebih luas," ungkap Balakrishnan.
Di sisi lain, kunjungan Balakrishnan ke Korea Selatan juga menghasilkan sejumlah kesepakatan. Ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun untuk membahas implementasi Kemitraan Strategis Singapura-ROK serta percepatan negosiasi peningkatan Perjanjian Perdagangan Bebas Korea-Singapura. Kedua negara sepakat untuk memperdalam kerja sama antara ASEAN dan Korea Selatan, termasuk peningkatan Area Perdagangan Bebas ASEAN-Korea (AKFTA), di mana Singapura bertindak sebagai koordinator hubungan ekonomi ASEAN-ROK.
Balakrishnan juga menyoroti pentingnya stabilitas hubungan antara AS dan China pasca pertemuan Trump dengan Xi Jinping di Beijing. Menurutnya, meskipun pembicaraan tersebut membawa "stabilitas tertentu" dalam hubungan kekuatan besar, rivalitas strategis yang lebih dalam belum hilang. Bagi Singapura, sebagai negara kota kecil dengan kepentingan vital di kedua negara adidaya, diperlukan kepekaan yang tinggi untuk memahami dinamika yang terjadi dan bersikap konstruktif. "Nasihat saya yang biasa dalam situasi seperti ini adalah kesabaran strategis. Jangan membuat keadaan menjadi lebih buruk, jangan memperparah masalah, tetapi lihatlah dengan cakrawala jangka panjang untuk mencari peluang yang bisa membantu atau membuka saluran komunikasi. Beberapa hal membutuhkan waktu untuk matang," pungkasnya.
Dengan latar belakang ketidakstabilan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz sejak Februari lalu, Balakrishnan menegaskan bahwa Singapura akan terus menjalin hubungan dengan semua pihakโbaik kekuatan besar, kekuatan menengah, maupun tetangga terdekatโagar kebijakan luar negerinya tetap relevan, tangguh, konstruktif, dan konsisten. Pertanyaannya kini, akankah Korea Utara pada akhirnya bersedia membuka diri, atau justru semakin memperkuat isolasinya di tengah persaingan global yang kian memanas?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6504511/original/082113700_1779361666-menhan-sebut-situasi-panas-laut-china-selatan-sudah-meredup.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7495724/original/000776200_1780267944-Gibran_Waisak.jpg)
