Olivia Rodrigo Kecam Reaksi 'Mengganggu' atas Gaun Babydoll: Ini Normalisasi Pedofilia
Baca dalam 60 detik
- Olivia Rodrigo mengecam publik yang menganggap gaun babydoll yang ia kenakan di atas panggung sebagai 'kekanak-kanakan' dan 'tidak pantas', menyebut reaksi itu sebagai bentuk normalisasi pedofilia.
- Dalam wawancara dengan The New York Times, ia menyoroti standar ganda di mana pakaian terbuka dianggap wajar, sementara pakaian tertutup yang dianggap 'kekanak-kanakan' justru dianggap provokatif.
- Penyanyi 23 tahun itu menegaskan tidak akan mengubah gaya berpakaian demi menuruti pandangan 'orang aneh', dan menyuarakan perlindungan terhadap perempuan muda dari retorika menyalahkan korban.

Olivia Rodrigo melontarkan kritik pedas terhadap publik yang 'menseksualisasikan' penampilannya saat mengenakan gaun babydoll di atas panggung. Dalam wawancara dengan Popcast milik The New York Times, penyanyi 23 tahun itu menyebut reaksi tersebut 'mengganggu' dan mencerminkan normalisasi pedofilia dalam budaya kontemporer.
Rodrigo tampil dalam balutan gaun babydoll bermotif bunga pink dan putih saat konser Spotify Billions Club belum lama ini. Alih-alih mendapat pujian, ia justru dihujani komentar yang menyebut penampilannya 'kekanak-kanakan' dan 'tidak pantas'. Hal ini memicu kemarahan sang musisi, yang merasa ada standar ganda dalam cara masyarakat menilai pakaian perempuan.
โSaya pernah tampil di panggung dengan bra berkilau dan celana pendek, itu hak saya, saya merasa keren dan nyaman. Tidak ada yang menganggapnya tidak pantas. Tapi ketika saya memakai gaun yang menutupi seluruh tubuh dan dianggap kekanak-kanakan, tiba-tiba itu dianggap tidak pantas,โ ujar Rodrigo dalam wawancara yang akan dirilis penuh pada Kamis (28/05/26).
Pelantun 'Deja Vu' itu menegaskan bahwa kritik terhadap pakaiannya justru mengungkap masalah yang lebih dalam: bagaimana masyarakat kerap menyalahkan perempuan atas respons seksual pria. โIni adalah retorika yang ditanamkan pada kami sejak kecil: jangan pakai itu karena pria akan menseksualisasikan tubuhmu dan itu salahmu. Sangat aneh,โ katanya.
Rodrigo juga mengaku tidak merasa seksi sama sekali saat mengenakan gaun tersebut. Ia justru terinspirasi oleh ikon musik seperti Kathleen Hanna dan Courtney Love. โSaya pikir, 'Ini keren, saya terlihat seperti idola saya', dan saya merasa nyaman. Jika kita mulai berpakaian hanya karena takut ada orang aneh yang menganggap kita seksi seperti bayi, itu sudah kehilangan arah,โ tambahnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di industri hiburan global, tetapi juga relevan di Indonesia. Kasus serupa kerap menimpa publik figur Tanah Air yang mendapat komentar bernada seksual atas pakaian yang dianggap 'kekanak-kanakan' atau 'polos'. Budaya victim-blaming masih kuat, di mana perempuan dianggap bertanggung jawab atas respons seksual orang lain. Kritik Rodrigo menjadi pengingat bahwa standar ganda ini perlu dihentikan, terutama demi melindungi perempuan muda dari retorika berbahaya.
Rodrigo menutup pernyataannya dengan nada tegas: ia tidak akan mengubah gaya berpakaian demi menyenangkan 'beberapa orang aneh'. โSaya sangat protektif terhadap perempuan muda dan anak perempuan. Saya tidak ingin mereka terus-menerus dijejali retorika seperti itu,โ ujarnya. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan dan masyarakat luas mengubah cara pandang yang sudah mengakar ini?



