Jelang 2028, Dominasi Sara Duterte di Pilpres Filipina Mulai Tergerus
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Filipina Sara Duterte masih memimpin survei elektoral untuk Pilpres 2028, namun dua lembaga survei utama mengidentifikasi titik lemah di Metro Manila dan Luzon.
- Kedua wilayah tersebut mencakup separuh dari total pemilih nasional dan menunjukkan jumlah pemilih ragu-ragu yang besar serta tren penurunan elektabilitas Duterte.
- Kerentanan ini membuka peluang bagi kandidat alternatif dan dapat mengubah peta politik Filipina, dengan implikasi bagi stabilitas koalisi pemerintahan saat ini.

Wakil Presiden Filipina Sara Duterte-Carpio, yang selama ini dianggap sebagai calon terkuat untuk pemilihan presiden 2028, mulai menunjukkan kerentanan di dua wilayah kunci yang mencakup setengah dari total pemilih nasional. Dua lembaga survei terkemuka, OCTA Research dan Pulse Asia, mengungkapkan bahwa elektabilitas putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu mengalami penurunan di Metro Manila dan sekelompok provinsi yang dikenal sebagai Balance Luzon.
Menurut Dr. Ranjit Rye, pendiri OCTA Research, dan Ronnie Holmes, presiden Pulse Asia, dua wilayah tersebut memiliki karakteristik serupa: jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan sangat besar, dan indikasi awal bahwa dukungan terhadap Duterte-Carpio mulai merosot. Hal ini menjadi sinyal bahwa dominasi politik keluarga Duterte, yang selama bertahun-tahun mendominasi panggung politik Filipina, mulai menghadapi tantangan serius.
Metro Manila, sebagai pusat ekonomi dan politik, serta Balance Luzon yang terdiri dari provinsi-provinsi di luar ibu kota, merupakan basis pemilih yang sangat strategis. Dengan lebih dari 34 juta pemilih terdaftar di kedua wilayah tersebut, perubahan preferensi di sana dapat secara signifikan menggeser keseimbangan kekuatan menuju Pilpres 2028. Para analis menilai bahwa tren ini bisa dimanfaatkan oleh kandidat oposisi atau bahkan sekutu koalisi yang berniat memisahkan diri.
Bagi Indonesia, perkembangan politik di Filipina memiliki relevansi tersendiri. Sebagai sesama negara demokrasi di Asia Tenggara, dinamika elektoral Filipina sering menjadi cermin bagi tren politik regional, termasuk pengaruh dinasti politik dan peran lembaga survei. Selain itu, stabilitas politik Filipina berdampak langsung pada hubungan bilateral, terutama di bidang perdagangan dan keamanan maritim di kawasan. Jika koalisi pendukung pemerintahan saat ini melemah, kebijakan luar negeri Filipina, termasuk sikapnya terhadap isu Laut China Selatan, bisa mengalami pergeseran.
Meskipun demikian, para pengamat mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan akhir dari dominasi Sara Duterte. Dengan waktu lebih dari tiga tahun menuju pemilu, mesin politik keluarga Duterte yang kuat dan basis dukungan yang solid di wilayah lain, seperti Mindanao, masih menjadi modal besar. Namun, kerentanan yang terdeteksi di pusat kekuasaan ini menandakan bahwa pertarungan menuju 2028 akan lebih kompetitif dari perkiraan sebelumnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah partai-partai oposisi mampu mengkonsolidasikan kekuatan dan menawarkan alternatif yang kredibel, atau justru kandidat dari internal koalisi yang akan memanfaatkan celah ini? Jawabannya akan menentukan tidak hanya masa depan politik Sara Duterte, tetapi juga arah demokrasi Filipina dalam satu dekade ke depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7334971/original/055098600_1780119146-WhatsApp_Image_2026-05-30_at_12.09.47.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7332618/original/047745000_1780117202-prabos-halim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7456001/original/001425200_1780230569-Karangan_Bunga.jpg)
