Toleransi Beragama di Depok: Salat Idul Adha di Lapangan Gereja Berlangsung 30 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Ribuan muslim melaksanakan salat Idul Adha di lapangan dekat Gereja Bethel Indonesia, Depok, sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak 1996.
- Penyelenggaraan ibadah di kawasan mayoritas non-muslim ini menunjukkan tingginya toleransi, dengan pihak gereja bahkan menyediakan lahan parkir.
- Tradisi ini menjadi bukti kerukunan antarumat beragama di Depok yang tetap terjaga meski di tengah konflik horizontal di daerah lain.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7098134/original/068698100_1779880254-IMG-20260527-WA0031.jpg)
Ribuan warga muslim di Kota Depok melaksanakan salat Idul Adha di Lapangan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), yang berlokasi tepat di samping Gereja Bethel Indonesia, pada Rabu (27/5/2026) pagi. Tradisi yang telah berlangsung selama tiga dekade ini menjadi bukti nyata tingginya toleransi antarumat beragama di wilayah Pancoran Mas.
Sejak pukul 06.00 WIB, jemaah dari berbagai usia mulai berdatangan dengan membawa sajadah dan mukena. Panitia dari Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) sibuk mengatur barisan salat. Dalam waktu singkat, lapangan dipenuhi sekitar 3.000 orang yang khusyuk mengikuti rangkaian ibadah, dari takbir hingga ceramah Idul Adha.
Menurut Diki Wahyu, salah satu penyelenggara, penggunaan lapangan YLCC untuk salat Id telah dimulai sejak 1996. โPelaksanaan salat Idul Adha sudah dilakukan selama 30 tahun,โ ujarnya. Ia menambahkan, keberhasilan acara ini tidak lepas dari koordinasi erat antara panitia, warga sekitar, dan pengelola gereja. Bahkan, pihak Gereja Bethel Indonesia memberikan izin penggunaan area parkir untuk kendaraan jemaah.
Fenomena ini menarik karena Lapangan YLCC berada di lingkungan yang mayoritas penduduknya non-muslim. Namun, suasana tetap kondusif dan saling menghormati. Diki mengingatkan bahwa pada tahun 1999, saat kerusuhan bernuansa agama melanda Ambon, Depok justru aman dan warganya saling menjaga. โWarga non-muslim di sini ikut membantu berjaga saat kami salat Ied,โ katanya.
Bagi warga seperti Lutfi, yang sudah dua tahun mengikuti salat Id di lokasi ini, pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam. โLihat saja, kami dapat melaksanakan salat Ied meskipun di sekitar kami merupakan kawasan non-muslim,โ ucapnya. Ia menilai kawasan YLCC menjadi peradaban yang mengajarkan toleransi, di mana gereja justru membuka pintu dan tersenyum, menyediakan tempat parkir sebagai bentuk penghargaan.
Lutfi berharap kerukunan di Depok bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. โSemoga ini menjadi barometer bagaimana kita saling merangkul dan menghargai, inilah toleransi sesungguhnya,โ pungkasnya. Praktik semacam ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah halangan untuk hidup berdampingan secara damai, bahkan dalam momen ibadah sekalipun.
Ke depan, tradisi ini diharapkan terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak komunitas untuk meniru model toleransi yang telah teruji selama tiga dekade. Pertanyaannya, mampukah praktik serupa direplikasi di wilayah lain yang masih rentan konflik?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7415284/original/087574900_1780193236-WhatsApp_Image_2026-05-31_at_09.01.28.jpeg)

