Longsor di Bantaran Ciliwung: Satu Rumah Nyaris Ambruk, Motor Terseret Material
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras di Depok memicu longsor di bantaran Sungai Ciliwung, merusak satu rumah dan menyeret sepeda motor ke sungai.
- Tim Damkar mengevakuasi motor dengan hati-hati selama dua jam karena risiko longsor susulan; tidak ada korban jiwa.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan pemukiman di bantaran sungai dan buruknya drainase yang memicu banjir di wilayah Depok.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7070427/original/091082700_1779849024-IMG-20260526-WA0142.jpg)
Hujan deras yang mengguyur Kota Depok pada Selasa sore menyebabkan longsor di bantaran Sungai Ciliwung, mengakibatkan satu rumah nyaris ambruk dan sebuah sepeda motor terseret material longsor. Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi warga yang bermukim di tepi sungai, terutama saat musim hujan tiba.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Depok, Denny Romulo, mengonfirmasi bahwa longsor terjadi sekitar pukul 17.40 WIB di Jalan HM Tohir, Pondok Cina. Menurut Denny, tanah di bantaran sungai tergerus akibat hujan deras yang berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 18.05 WIB. "Satu rumah longsor disebabkan tanah di bantaran sungai Ciliwung terkikis," ujarnya.
Petugas Damkar yang tiba di lokasi mendapati bagian sisi rumah yang berbatasan langsung dengan sungai mengalami longsor. Selain itu, sebuah sepeda motor milik warga ikut terbawa longsoran. Proses evakuasi motor memakan waktu sekitar dua jam karena jarak yang cukup tinggi antara rumah dan aliran sungai, serta kekhawatiran akan pergerakan tanah susulan. "Butuh ekstra hati-hati saat evakuasi motor, dikhawatirkan terjadi pergerakan longsor susulan," jelas Denny.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Penghuni rumah berhasil menyelamatkan diri sebelum longsor semakin parah. Namun, Damkar meminta warga untuk sementara mengungsi ke rumah kerabat guna mengantisipasi longsor lanjutan akibat debit Sungai Ciliwung yang meningkat. "Kami meminta untuk tidak menempati rumah dahulu, dikhawatirkan apabila sungai Ciliwung deras, dapat berpotensi menggerus tanah yang longsor," tutur Denny.
Tak hanya longsor, hujan deras juga menyebabkan banjir di sejumlah ruas jalan, termasuk Jalan Keadilan Raya, Sukmajaya. Seorang warga, Uswatun, melaporkan ketinggian air mencapai 40 sentimeter. Banyak pengendara motor nekat melintas, mengakibatkan tiga kendaraan mogok. Uswatun menduga banjir dipicu oleh buruknya drainase dan saluran air yang tersumbat sampah. "Kalau hujan deras pasti banjir, air masuk saluran sepertinya terhalang," ucapnya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan akan problem klasik di wilayah perkotaan seperti Depok: pemukiman padat di bantaran sungai yang rawan longsor dan banjir, serta infrastruktur drainase yang belum memadai. Minimnya pohon penyangga di sekitar sungai turut memperparah erosi tanah saat hujan deras. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan normalisasi sungai dan penataan kawasan bantaran untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah penanganan yang dilakukan bersifat jangka pendek atau akan diikuti dengan kebijakan relokasi dan perbaikan drainase yang lebih sistematis. Tanpa langkah konkret, warga di bantaran Ciliwung akan terus hidup dalam bayang-bayang longsor dan banjir setiap musim hujan tiba.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7186959/original/042884900_1779983531-IMG_0027.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253855/original/001124500_1780039906-3.jpg)
