Skenario Iklim Terburuk Dihapus, Tanda Aksi Global Mulai Berbuah
Baca dalam 60 detik
- Para ilmuwan mengeliminasi skenario emisi tinggi RCP8.5 dari proyeksi iklim terbaru karena aksi pengurangan emisi mulai menunjukkan hasil nyata.
- Meski skenario terburuk telah dihindari, dunia justru kehilangan peluang mencapai target 1,5°C karena emisi belum turun signifikan.
- Indonesia perlu mengantisipasi dampak perubahan iklim yang tetap parah, dengan proyeksi suhu global naik 2,6°C jika kebijakan saat ini tidak diperketat.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemodelan iklim, skenario terburuk yang membayangkan bumi memanas hingga 4,5°C pada 2100 resmi dicoret oleh para ilmuwan. Keputusan ini bukan karena kegagalan model, melainkan bukti bahwa aksi iklim global—meski lambat—mulai mengubah arah masa depan planet.
Dalam rilis terbaru skenario iklim yang diumumkan pekan lalu, para peneliti menghapus skenario RCP8.5 dan variannya SSP5-8.5. Kedua skenario itu sebelumnya menggambarkan dunia tanpa upaya pengendalian emisi, dengan penggunaan bahan bakar fosil yang melonjak dan konsentrasi karbon dioksida mencapai 1.135 ppm—hampir tiga kali lipat level pra-industri. Kini, skenario paling pesimistis yang tersisa hanya memperkirakan pemanasan sekitar 3,5°C pada akhir abad.
Penghapusan ini langsung disambut sinis oleh para penentang sains iklim, termasuk Presiden AS Donald Trump yang mengeklaim model iklim gagal. Namun, para ahli menegaskan bahwa langkah tersebut justru mencerminkan kemajuan nyata: pertumbuhan emisi melambat berkat ekspansi energi surya, angin, kendaraan listrik, dan baterai. “Bukan karena model salah, tapi karena aksi iklim mulai bekerja,” tulis para peneliti dalam pernyataan resmi.
Meski skenario terburuk telah dihindari, kabar baik ini tidak serta-merta membuat masa depan aman. Para ilmuwan mengingatkan bahwa dunia justru kehilangan kesempatan untuk mencapai skenario paling optimistis dari proyeksi sebelumnya, yaitu SSP1-1.9 yang membatasi pemanasan di 1,5°C. Karena emisi global belum mulai turun, skenario terbaik yang tersisa kini hanya mampu menahan pemanasan di angka 1,9°C—dengan asumsi upaya penarikan karbon dioksida dari atmosfer berhasil dilakukan.
Bagi Indonesia, implikasi dari perubahan skenario ini sangat relevan. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia termasuk yang paling rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem. Proyeksi pemanasan 2,6°C—yang merupakan lintasan kebijakan saat ini—berarti ancaman banjir rob, gagal panen, dan hilangnya keanekaragaman hayati akan semakin nyata. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan target emisi nol bersih pada 2060, namun implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sektor energi dan deforestasi.
Ke depan, para peneliti menekankan bahwa lima tahun ke depan akan menjadi penentu. Percepatan transisi energi, kebijakan iklim yang lebih ambisius, dan inovasi teknologi dapat mengarahkan dunia ke jalur yang lebih rendah emisi. Namun, jika status quo terus dipertahankan, skenario 2,6°C bukanlah sekadar angka—melainkan gambaran masa depan yang harus siap dihadapi oleh Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Pertanyaannya: akankah momentum aksi iklim global cukup cepat untuk mengubah lintasan tersebut?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7186959/original/042884900_1779983531-IMG_0027.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253855/original/001124500_1780039906-3.jpg)

