Transaksi Yuan di Indonesia Melonjak, BI Buka Akses Lebih Luas di Perbankan
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia memfasilitasi transaksi yuan secara langsung di perbankan domestik, mencakup instrumen tunai, swap, dan forward.
- Nilai transaksi bilateral dengan China mencapai US$3,7 miliar per bulan, mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal.
- Kebijakan baru juga memperluas opsi mata uang dan tenor penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) hingga 12 bulan.

Bank Indonesia (BI) resmi memperluas kemudahan transaksi menggunakan yuan China di dalam negeri, merespons lonjakan penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) yang kian diminati pelaku bisnis. Langkah ini menjadi sinyal kuat meningkatnya peran yuan dalam perdagangan bilateral Indonesia-China, yang nilainya kini mencapai miliaran dolar AS setiap bulan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, nilai transaksi LCT antara Indonesia dan China saat ini sekitar US$3,7 miliar per bulan atau setara Rp66,11 triliun. Sepanjang tahun lalu, total akumulasi transaksi bahkan telah menembus US$25 miliar (sekitar Rp446,69 triliun). Angka ini menjadikan China sebagai mitra LCT terbesar bagi Indonesia, mengungguli negara-negara lain yang juga menggunakan skema serupa.
"Sekarang Chinese Yuan sudah ditransaksikan dalam negeri, karena lokal currency transaksi kita dengan Tiongkok itu yang terbesar," kata Perry di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (28/5/2026). Dengan demikian, bank-bank domestik kini telah dilengkapi fasilitas transaksi yuan yang komprehensif, menyusul penambahan instrumen yang ditetapkan BI.
Instrumen transaksi yuan yang kini tersedia di perbankan Indonesia mencakup transaksi tunai atau spot, currency swap, hingga transaksi forward. Perry menegaskan, masyarakat yang memiliki yuan dapat langsung memanfaatkannya di dalam negeri tanpa perlu konversi ke dolar AS terlebih dahulu. "Mau tunai spot boleh, mau swap boleh, juga mau kemudian digunakan untuk forward juga boleh," ujarnya.
Kebijakan ini sejalan dengan upaya BI mendorong penggunaan yuan dalam aturan terbaru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Selama ini, instrumen penempatan DHE SDA mayoritas menggunakan dolar AS. Namun, ke depan BI akan memperluas mata uang yang bisa digunakan eksportir, termasuk yuan. Selain itu, tenor instrumen DHE SDA juga diperpanjang hingga 12 bulan untuk memberikan fleksibilitas lebih besar kepada eksportir dalam mengelola devisa hasil ekspor.
Langkah BI ini memiliki implikasi strategis bagi perekonomian Indonesia. Dengan mempermudah transaksi yuan, BI tidak hanya mengurangi ketergantungan pada dolar AS, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global yang semakin terintegrasi dengan China. Bagi pelaku usaha, terutama eksportir komoditas, kebijakan ini membuka peluang efisiensi biaya transaksi dan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat adopsi yuan oleh perbankan dan eksportir Indonesia akan meningkat. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin yuan akan menjadi mata uang alternatif utama di Indonesia, menggeser dominasi dolar AS dalam transaksi bilateral. Namun, tantangan seperti likuiditas yuan di pasar domestik dan kesiapan infrastruktur perbankan masih perlu diantisipasi.



