KTT AS-China: Stabilitas Tercapai, Isu Strategis Terabaikan
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Trump-Xi menekankan stabilitas namun minim capaian substantif, hanya mengukuhkan status quo.
- Isu nuklir China dan strategi jangka panjang Beijing luput dari agenda, sementara AS fokus pada masalah perdagangan jangka pendek.
- Bagi Indonesia, dinamika ini berpotensi menggeser keseimbangan geopolitik regional dan mempengaruhi kebijakan luar negeri bebas aktif.

Pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping baru-baru ini lebih menonjolkan upaya meredakan ketegangan daripada mencapai terobosan diplomatik. Di tengah bayang-bayang konflik Iran dan ketidakpastian ekonomi global, kedua pemimpin sepakat untuk menjaga stabilitas, namun sejumlah persoalan strategis justru terpinggirkan.
Menurut analis hubungan internasional, hasil pembicaraan tersebut hanya sebatas pengulangan komitmen lama tanpa langkah konkret. Isu Taiwan, misalnya, kembali diangkat oleh Xi sebagai peringatan rutin, sementara Trump belum menunjukkan perubahan kebijakan berarti. Yang lebih mengkhawatirkan, pernyataan Trump yang menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai "alat tawar" menimbulkan tanda tanya besar di kawasan.
Di bidang perdagangan, gencatan senjata politik yang disepakati di KTT Busan tahun lalu kembali ditegaskan. Namun, sumber gesekan belum hilang. Meskipun Mahkamah Agung AS menyatakan "tarif resiprokal" ilegal, pemerintahan Trump tetap berniat menggunakan tarif sebagai alat negosiasi. Ketidaksepakatan juga masih terjadi terkait ekspor semikonduktor canggih ke China dan investasi China di AS.
Yang menarik, China dalam pertemuan tersebut memperkenalkan frasa "hubungan stabilitas strategis yang konstruktif" dan kembali mengingatkan soal "Perangkap Thucydides"โkondisi ketika kekuatan mapan merasa terancam oleh kekuatan yang bangkit. Hal ini menunjukkan bahwa Beijing kini menuntut pengakuan setara, bahkan mungkin superior, dari Washington. Bagi Indonesia, pergeseran ini patut dicermati karena dapat mengubah peta aliansi di Asia Tenggara.
Dampak langsung terhadap hubungan Jepang-China diperkirakan terbatas, dan Tokyo menyambut baik upaya stabilisasi AS-China. Namun, mantan diplomat Jepang Koji Tomita mengingatkan bahwa sementara AS sibuk dengan urusan perdagangan jangka pendek, China justru bergerak strategis jangka panjang. Akibatnya, isu-isu krusial seperti modernisasi nuklir China luput dari perhatian.
Ke depan, KTT ini hanya menjadi pemanasan untuk serangkaian pertemuan puncak yang dijadwalkan akhir tahun. Pemerintah Indonesia, melalui forum-forum multilateral, perlu mendorong agar isu-isu strategis seperti perlucutan senjata dan stabilitas kawasan tidak terus diabaikan. Apakah AS dan China mampu beralih dari sekadar menjaga stabilitas ke penyelesaian masalah fundamental? Jawabannya akan menentukan arah tatanan global dalam beberapa tahun mendatang.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7342814/original/023463400_1780125666-cdfffdb1-0e1a-407e-a7a1-7f43af047c1d.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7365300/original/053867100_1780146121-WhatsApp_Image_2026-05-30_at_19.43.00.jpeg)