Idul Adha 1447 H: Puan Ajak Masyarakat Kokohkan Solidaritas Sosial Lewat Semangat Berkurban
Baca dalam 60 detik
- Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan Idul Adha sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial dan kebersamaan di tengah tantangan bangsa.
- Ia menyumbangkan satu ekor sapi limousine seberat satu ton untuk dibagikan kepada pegawai dan warga sekitar kompleks parlemen.
- Puan mengajak masyarakat meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan ketabahan Nabi Ismail dalam mewujudkan keadilan sosial.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7073035/original/083963200_1779852170-WhatsApp_Image_2026-05-27_at_10.13.01.jpeg)
Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak seluruh elemen masyarakat memaknai Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah sebagai tonggak memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial di tengah berbagai persoalan kebangsaan. Ajakan itu disampaikan usai menunaikan salat Idul Adha di Masjid Baiturrahman, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Dalam pernyataannya, Puan menekankan bahwa esensi Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan cermin keikhlasan dan pengorbanan yang diajarkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Idul Adha mendidik kita menjadi manusia yang memiliki kepekaan dan kepedulian pada sesama,” ujar politisi PDIP itu. Ia menambahkan, momentum ini harus dijadikan panggilan kolektif untuk bergotong royong mengatasi masalah-masalah bangsa.
Puan yang hadir bersama pegawai DPR dan warga sekitar itu mengikuti salat yang dipimpin Ustaz Sahid Darajat dengan tema “Idul Adha, Momentum Berkurban Merajut Kebersamaan dan Kepedulian terhadap Sesama”. Usai salat, ia menyempatkan diri melihat hewan kurban milik DPR yang akan dipotong keesokan harinya. Puan secara pribadi menyumbangkan satu ekor sapi limousine seberat satu ton—hewan kurban terbesar yang pernah disumbangkan dalam momen Idul Adha di lingkungan parlemen.
Bagi masyarakat Indonesia, pesan Puan memiliki resonansi khusus di tengah tekanan ekonomi dan sosial yang masih terasa. Idul Adha kerap menjadi barometer partisipasi publik dalam kegiatan filantropi, terutama melalui kurban. Data Kementerian Agama menunjukkan, setiap tahun jumlah hewan kurban terus meningkat, namun distribusi yang merata masih menjadi tantangan. Puan berharap semangat berkurban tidak berhenti pada seremonial, tetapi mendorong kepekaan terhadap kepentingan bersama dan perjuangan keadilan sosial.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Aditya Perdana, menilai pernyataan Puan mencerminkan upaya membangun citra kepemimpinan yang dekat dengan rakyat. “Momen Idul Adha menjadi medium efektif bagi tokoh publik untuk menegaskan komitmen sosial. Namun, yang lebih penting adalah konsistensi kebijakan yang berpihak pada kaum papa,” ujarnya. Ia menambahkan, ajakan Puan untuk merefleksikan makna pengorbanan bisa menjadi modal sosial yang kuat jika diikuti aksi nyata.
Puan sendiri mengaku bahwa Idul Adha selalu menjadi hari yang dinantikan setiap tahun. “Pengorbanan yang kita rayakan hari ini harus menjadikan kita lebih sensitif terhadap kepentingan bersama dan lebih gigih memperjuangkan keadilan sosial,” tegasnya. Ia pun menutup sambutannya dengan harapan agar setiap pengorbanan, baik yang tampak maupun tersembunyi, menjadi jalan memuliakan kehidupan sebagai manusia dan bangsa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah semangat Idul Adha ini akan diterjemahkan ke dalam kebijakan yang memperkuat jaring pengaman sosial, atau sekadar retorika tahunan. Dengan tantangan kemiskinan dan kesenjangan yang masih menganga, publik menanti langkah konkret dari para pemimpin untuk mewujudkan nilai-nilai kurban dalam tata kelola negara.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5239711/original/025489200_1748849958-20250602-Upacara_Hari_Pancasila-AFP_4.jpg)

