CEO Tottenham Akui Klub Butuh 'Reset Total' Usai Selamat dari Degradasi
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur mengamankan status Premier League di hari terakhir musim 2025/26 setelah kemenangan atas Everton.
- CEO Vinai Venkatesham mengakui klub memerlukan perombakan menyeluruh di sisi sepak bola, bukan sekadar perbaikan kecil.
- Keluarga Lewis selaku pemilik berkomitmen menggelontorkan investasi besar-besaran untuk membangun kembali klub.

Kemenangan tipis atas Everton di laga pamungkas Premier League memastikan Tottenham Hotspur tidak terdegradasi, namun CEO Vinai Venkatesham mengakui bahwa hasil akhir musim ini hanyalah pelepas dahaga di tengah krisis yang jauh lebih dalam. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, Venkatesham mengungkapkan bahwa klub yang bermarkas di London Utara itu membutuhkan 'reset total' di sisi sepak bola, bukan sekadar perbaikan kecil.
Venkatesham, yang bergabung pada Juni 2025, mengaku optimistis pada hari pertamanya dengan target bersaing di zona Eropa. Namun, setelah beberapa bulan menjabat, ia menemukan kondisi klub jauh lebih buruk dari perkiraannya. "Ini bukan sekadar turnaround, ini benar-benar reset total," ujarnya. Ia menyoroti ketimpangan antara kekuatan komersial dan stadion yang solid dengan sisi sepak bola yang tertinggal dari klub-klub Premier League lain.
Menurut Venkatesham, pusat pelatihan Tottenham yang megah lebih mirip hotel bintang lima daripada lingkungan berkinerja tinggi. "Tidak ada obsesi tanpa henti terhadap kesuksesan sepak bola," tegasnya. Ia juga mengakui bahwa klub kekurangan keahlian di banyak area, dan perbaikan akan dimulai pada musim panas ini.
Keputusan mempertahankan Thomas Frank terlalu lama menjadi sorotan tajam penggemar. Venkatesham membantah tuduhan pasif, menjelaskan bahwa klub mempertimbangkan berbagai faktor seperti hasil, jadwal, dan risiko pergantian pelatih di bursa Januari. Setelah Frank dipecat pada Februari, Tottenham gagal mendatangkan Roberto De Zerbi secara permanen karena pelatih Italia itu menolak bergabung di tengah musim. Alhasil, klub mengambil risiko dengan menunjuk Igor Tudor yang tidak berpengalaman di Premier League, sebuah langkah yang diakui Venkatesham sebagai kesalahan. "Itu tidak berhasil. Sangat jelas tidak berhasil," katanya.
Tekanan dari suporter kini beralih ke Venkatesham setelah kepergian Daniel Levy pada September lalu. Ia mengaku memahami frustrasi penggemar, tetapi menegaskan bahwa masalah yang diwarisi klub tidak bisa diselesaikan dalam semalam. "Saya harus menghadapi badai ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kritik yang melampaui batas wajar kerap dialami para pemain, wasit, dan eksekutif sepak bola.
Di sisi lain, kedatangan Roberto De Zerbi memberikan angin segar. Pelatih asal Italia itu berhasil membangkitkan kepercayaan diri skuad dan mengamankan status Premier League. Venkatesham memuji dampak luar biasa De Zerbi, meski mengingatkan bahwa ini masih awal. De Zerbi diharapkan terlibat penuh dalam rekrutmen musim panas ini. Tottenham telah melakukan pembicaraan dengan mantan direktur olahraga Borussia Dortmund, Sebastian Kehl, dan menaikkan batas gaji untuk menarik pemain bintang. "Jendela transfer ini sangat kritis," tegas Venkatesham.
Pernyataan resmi dari keluarga Lewis, pemilik klub, menegaskan komitmen mereka untuk membangun kembali Tottenham. "Kami tidak menjual klub. Kami all-in. Kami berinvestasi," demikian bunyi pernyataan tersebut. Mereka mengakui bahwa musim seperti ini tidak boleh terulang lagi dan perubahan yang diperlukan akan memakan waktu serta komitmen.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Tottenham menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara aspek komersial dan prestasi olahraga. Klub-klub di Liga 1 Indonesia yang tengah gencar membangun stadion dan fasilitas modern perlu memastikan bahwa investasi di sisi non-teknis tidak mengorbankan pengembangan tim utama. Kegagalan Tottenham mempertahankan 'obsesi terhadap kesuksesan sepak bola' mengingatkan bahwa infrastruktur mewah tanpa manajemen sepak bola yang kompeten hanya akan menjadi pajangan kosong.
Ke depan, tantangan terbesar Tottenham bukan hanya merekrut pemain berkualitas, tetapi juga mengubah budaya klub yang selama ini dianggap kurang agresif dalam mengejar kemenangan. Pertanyaan besarnya: mampukah De Zerbi dan Venkatesham membawa Spurs kembali ke papan atas Premier League, atau akankah klub ini terus terombang-ambing di tengah hiruk-pikuk London?



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4838391/original/066119600_1716272142-000_346E6AD.jpg)