Prabowo di Paris: Pertahanan dan Energi Jadi Prioritas Baru RI-Prancis
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memulai kunjungan kenegaraan ke Prancis dengan agenda utama peningkatan status hubungan bilateral menjadi kemitraan strategis komprehensif.
- Fokus kerja sama mencakup pertahanan, energi terbarukan, mineral kritis, dan teknologi, yang diharapkan mendorong investasi hilirisasi dan penguasaan teknologi masa depan.
- Diaspora Indonesia di Prancis menyambut hangat kunjungan ini, berharap adanya perluasan peluang ekonomi, kewirausahaan, dan pertukaran pendidikan.

Presiden Prabowo Subianto mendarat di Bandara Orly, Paris, Selasa (26/5/2026) pagi waktu setempat, membawa misi memperkuat kerja sama strategis dengan Prancis di sektor pertahanan hingga energi. Kunjungan yang merupakan balasan atas kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia tahun lalu ini diharapkan menjadi tonggak baru hubungan bilateral kedua negara.
Dalam pertemuan puncak nanti, kedua pemimpin direncanakan mengumumkan peningkatan status hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership. Langkah ini, menurut Kementerian Luar Negeri RI, mencerminkan semakin pentingnya posisi Indonesia dan Prancis di tengah ketidakpastian global. Fokus utama kerja sama meliputi pertahanan, energi terbarukan, mineral kritis, dan inovasi teknologi.
Peningkatan status kemitraan ini tidak hanya bersifat diplomatis. Pemerintah Indonesia menargetkan pembentukan ekosistem industri yang berimbang, investasi hilirisasi sumber daya alam, serta transfer teknologi masa depan. Sektor pertahanan menjadi salah satu prioritas, mengingat Prancis merupakan salah satu pemasok alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi Indonesia.
Antusiasme juga terlihat dari diaspora Indonesia di Paris. Feliana, warga negara Indonesia yang telah menetap 17 tahun di Prancis, berharap kunjungan ini membuka peluang ekonomi dan kewirausahaan bagi diaspora. "Semoga Pak Presiden terus mempererat hubungan Indonesia dan Prancis, khususnya mengikutsertakan semua diaspora Indonesia untuk membangun lebih entrepreneurship dan bisnis di Prancis," ujarnya dalam rilis Bakom RI.
Harapan serupa disampaikan Amanda, mahasiswa Indonesia di Prancis. Ia menginginkan penguatan kerja sama pendidikan, terutama program pertukaran pelajar. "Harapan ke depannya semoga semakin banyak acara atau pertukaran pelajar di Prancis dan Indonesia," ungkapnya. Kedua suara diaspora ini menunjukkan bahwa kunjungan kenegaraan tidak hanya berdampak pada level pemerintahan, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia di luar negeri.
Kedatangan Prabowo disambut oleh Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Prancis, Jean-Pierre Farandou, dengan jajar kehormatan. Sebelum memulai agenda resmi, Presiden dijadwalkan melaksanakan salat Iduladha dan bersilaturahmi dengan masyarakat Indonesia di Wisma KBRI Paris. Momen ini menjadi simbol bahwa diplomasi Indonesia tidak hanya mengedepankan kepentingan strategis, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan.
Ke depan, implementasi kerja sama ini akan menjadi ujian. Apakah peningkatan status kemitraan mampu mendorong realisasi investasi dan transfer teknologi yang selama ini dinanti? Ataukah akan kembali terjebak dalam kesepakatan seremonial? Jawabannya tergantung pada komitmen kedua negara untuk menindaklanjuti agenda besar ini dengan langkah konkret.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557592/original/054383800_1776339190-IMG_2023.jpeg)