Setahun Setelah Konflik Kilat, Ketegangan India-Pakistan Kembali Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Serangan teroris di Kashmir pada April 2024 memicu operasi militer India dan balasan Pakistan, menimbulkan kekhawatiran eskalasi nuklir.
- Pasca-konflik, pengaruh militer Pakistan menguat melalui kedekatan dengan AS dan mitra regional, sementara India berjuang mempertahankan pengaruh diplomatiknya.
- Retorika permusuhan dan sengketa sumber daya air memperkecil ruang dialog, membuat gencatan senjata rapuh dan risiko konflik baru tetap tinggi.

Setahun telah berlalu sejak pecahnya konflik singkat antara India dan Pakistan pada Mei 2024, yang sempat memicu kekhawatiran perang terbuka di antara dua negara bersenjata nuklir tersebut. Meskipun gencatan senjata masih bertahan, ketegangan di kawasan tetap tinggi dan potensi eskalasi baru terus mengintai.
Konflik dipicu oleh serangan teroris di Pahalgam, Kashmir India, pada 22 April 2024 yang menewaskan 26 warga sipil. India menuding kelompok militan Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan sebagai dalang, sementara Pakistan membantah keras tuduhan tersebut. Pada 7 Mei, India meluncurkan Operasi Sindoor yang menyasar basis terduga teroris di Pakistan, dibalas Pakistan dengan Operasi Bunyan-un-Marsoos. Pertempuran berlangsung empat hari dan menewaskan puluhan orang, serta memicu kekhawatiran penggunaan senjata nuklir.
Gencatan senjata pada 10 Mei dimediasi oleh pemerintahan Trump, yang diklaim AS sebagai keberhasilan diplomatik. Namun, India merasa jengkel karena AS dianggap terlalu menonjol, sementara Pakistan justru menominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian. Pasca-konflik, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Syed Asim Munir, diangkat menjadi field marshal dan kepala pertama pasukan pertahanan, menandai kembalinya militer ke panggung politik utama. Munir kemudian menjalin hubungan erat dengan Trump dan menjadi tokoh kunci dalam negosiasi AS-Iran.
Di India, Operasi Sindoor dipandang sebagai kemenangan kebijakan luar negeri tegas Perdana Menteri Narendra Modi, menciptakan konsensus politik langka. Namun, di Kashmir, serangan teroris memicu operasi keamanan yang menutup sejumlah lokasi wisata, mengakibatkan penurunan drastis kunjungan dan merugikan bisnis lokal. Tindakan keamanan yang menyasar warga sipil juga menuai kritik dari pegiat hak asasi manusia.
Dampak paling signifikan terlihat pada peta diplomasi kawasan. Pakistan memperkuat kerja sama operasional dengan China dan Turki, menggunakan jet tempur dan rudal buatan China serta drone Turki. Intelijen satelit juga didukung China. Setelah konflik, Pakistan menandatangani kesepakatan minyak dengan AS dan pakta pertahanan dengan Arab Saudi. Hal ini mempersulit upaya India yang selama satu dekade berusaha mengisolasi Pakistan secara diplomatik. Hubungan Modi-Trump pun memburuk akibat sengketa tarif dan pembelian minyak Rusia oleh India.
India mengirimkan delegasi ke lebih dari 30 negara untuk meyakinkan dunia bahwa Pakistan adalah agresor, namun upaya tersebut dinilai belum membuahkan hasil signifikan. Kunjungan Modi ke Israel yang dianggap tidak tepat waktu dan minimnya pengaruh India dalam perang AS-Iran turun mempertanyakan peran India sebagai pemimpin regional.
Retorika politik kedua negara tetap panas. India mengancam akan menangguhkan perjanjian pembagian air sungai utama hingga Pakistan menghentikan dukungan terhadap terorisme, meninggalkan masalah keamanan air yang belum terselesaikan. Pakistan merespons dengan peringatan bahwa serangan berikutnya akan memicu konsekuensi yang tidak terbatas secara geografis maupun politis. Dengan menipisnya kepercayaan dan ruang dialog yang semakin sempit, gencatan senjata saat ini hanya menjadi jeda sementara sebelum kemungkinan konflik berikutnya.


