IHSG Melonjak 1,43%: Lima Saham Grup Barito Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup sesi pertama dengan kenaikan 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88, didorong oleh aksi beli saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
- Lima dari sepuluh saham dengan kenaikan tertinggi hari ini berasal dari Grup Barito, dengan BREN melesat 25% dan CUAN naik 24,75%, menandai rebound setelah tekanan dari pengumuman MSCI dan FTSE.
- Total transaksi saham Grup Barito mencapai Rp 14,71 triliun, menyumbang sebagian besar volume perdagangan yang tercatat sebesar 22 miliar saham, mengindikasikan sentimen positif investor terhadap emiten konglomerat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada sesi pertama perdagangan Jumat (29/5/2026), ditopang oleh aksi beli besar-besaran terhadap saham-saham Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu. Indeks berhasil menguat 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88, dengan nilai transaksi mencapai Rp 16,06 miliar dan volume 22 miliar saham.
Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi hanya beberapa hari setelah emiten Grup Barito mengalami tekanan akibat penyesuaian indeks oleh MSCI dan FTSE. Kini, saham-saham tersebut justru menjadi motor penggerak utama IHSG, menunjukkan perputaran sentimen yang cepat di kalangan investor. Lima dari sepuluh saham dengan kenaikan tertinggi pada hari ini berasal dari Grup Barito, yakni BREN, CUAN, BRPT, PTRO, dan CDIA.
Kenaikan tertinggi dicatat oleh Barito Renewables Energy (BREN) yang melesat 25% ke Rp 3.300 per saham, disusul Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) yang naik 24,75% ke Rp 630. Barito Pacific (BRPT) menguat 23,15% ke Rp 1.915, Petrose (PTRO) naik 20,59% ke Rp 4.510, dan Chandra Daya Investasi (CDIA) bertambah 15,89% ke Rp 875. Total transaksi kelima saham ini mencapai Rp 14,71 triliun, dengan TPIA menjadi yang paling ramai diperdagangkan senilai Rp 4,5 triliun.
Menurut analis pasar, rebound ini menunjukkan bahwa investor masih percaya pada fundamental emiten Grup Barito meskipun sempat tertekan oleh aksi indeks. "Pergerakan ini bisa diartikan sebagai bargain hunting setelah harga terkoreksi, ditambah dengan sentimen positif dari sektor energi dan infrastruktur yang sedang naik daun," ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas masih tinggi dan investor perlu mencermati perkembangan indeks global.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini memberikan gambaran tentang betapa dominannya saham-saham konglomerat dalam mempengaruhi IHSG. Dengan nilai transaksi yang jumbo, likuiditas pasar tetap terjaga, tetapi risiko konsentrasi juga perlu diwaspadai. Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada aksi lanjutan investor terhadap saham-saham Grup Barito dan sektor-sektor yang menjadi penopang utama.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah reli ini akan berlanjut atau hanya sekadar dead cat bounce? Investor disarankan untuk tetap waspada dan melakukan diversifikasi portofolio guna mengantisipasi potensi koreksi.



