Prabowo dan Macron Resmikan Dewan Bisnis Tingkat Tinggi, Targetkan Perdagangan Tiga Kali Lipat pada 2035
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron meluncurkan France–Indonesia High Level Business Council (FI-HLBC) untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral.
- FI-HLBC diharapkan menjadi katalis percepatan realisasi MoU dan proyek strategis di sektor manufaktur, energi, infrastruktur, dan teknologi.
- Kedua negara menargetkan peningkatan nilai perdagangan hingga tiga kali lipat pada 2035, menempatkan Indonesia sebagai mitra kunci Prancis di Asia Tenggara.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi membentuk France–Indonesia High Level Business Council (FI-HLBC) dalam Forum CEO Indonesia–Prancis, sebuah langkah konkret yang diyakini akan mempercepat lonjakan investasi dan perdagangan bilateral. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa kedua negara serius mengejar target ambisius: meningkatkan volume perdagangan tiga kali lipat pada 2035.
FI-HLBC merupakan inisiatif bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan MEDEF International, organisasi pengusaha terbesar di Prancis. Dewan ini dirancang sebagai platform strategis bagi para pelaku bisnis dari kedua negara untuk mengidentifikasi peluang kerja sama di sektor-sektor prioritas. Dengan adanya forum ini, pemerintah berharap hambatan birokrasi dan kesenjangan informasi antara pengusaha Indonesia dan Prancis dapat diminimalkan.
Pembentukan FI-HLBC bukan sekadar seremoni. Dewan ini ditargetkan mampu mempercepat realisasi nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya, terutama di bidang industri manufaktur, energi, infrastruktur, dan teknologi berkelanjutan. Bagi Indonesia, langkah ini sejalan dengan upaya menarik investasi asing langsung (FDI) untuk mendorong hilirisasi dan transisi energi hijau.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, FI-HLBC membuka akses lebih luas ke pasar Prancis dan Eropa. Prancis selama ini dikenal sebagai salah satu investor utama di sektor infrastruktur dan energi di Asia Tenggara. Dengan adanya dewan bisnis tingkat tinggi ini, proyek-proyek seperti pembangkit listrik tenaga surya, transportasi publik, dan pengembangan kawasan industri di Indonesia berpotensi mendapatkan pendanaan dan teknologi dari perusahaan-perusahaan Prancis.
Dalam forum tersebut, Prabowo dan Macron menegaskan komitmen untuk memperkuat koridor ekonomi Indonesia–Prancis. Target tiga kali lipat perdagangan bukanlah angka yang mudah, namun dengan adanya FI-HLBC, kedua pihak optimistis dapat mencapai pertumbuhan yang signifikan. Saat ini, nilai perdagangan bilateral masih di bawah potensi maksimal, dan sektor-sektor seperti energi terbarukan dan infrastruktur digital menjadi area dengan peluang besar.
Menurut analis ekonomi, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai hub investasi di Asia Tenggara. Prancis, yang selama ini lebih banyak berinvestasi di Vietnam dan Thailand, kini mulai melirik Indonesia sebagai mitra strategis. Hal ini didorong oleh stabilitas politik Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo serta kebijakan pro-investasi yang digencarkan.
Ke depan, implementasi FI-HLBC akan menjadi ujian nyata. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana dewan ini mampu mendorong proyek-proyek konkret di lapangan, bukan hanya sekadar wacana. Dengan target ambisius 2035, Indonesia dan Prancis harus bergerak cepat dalam menyelaraskan regulasi, membangun infrastruktur pendukung, dan memastikan iklim investasi yang kondusif.


