Jalur Feri Waikelo–Sape Kembali Beroperasi, Dorong Konektivitas dan Ekonomi NTT–NTB
Baca dalam 60 detik
- Lintasan penyeberangan Waikelo–Sape yang sempat mati suri kini diaktifkan kembali oleh Pemkab Sumba Barat Daya bersama PT ASDP Indonesia Ferry.
- Rute ini diproyeksikan menjadi urat nadi logistik yang memperlancar distribusi hasil pertanian, peternakan, dan perikanan antarprovinsi.
- Pembukaan jalur tersebut juga diharapkan mempercepat akses layanan publik, termasuk rujukan kesehatan darurat dan distribusi pendidikan ke wilayah kepulauan.

Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) secara resmi mengaktifkan kembali lintasan penyeberangan laut Waikelo–Sape pada Minggu (24/5/2026). Rute yang menghubungkan Pelabuhan Waikelo di Nusa Tenggara Timur dengan Pelabuhan Sape di Nusa Tenggara Barat ini telah lama tidak beroperasi dan disambut antusias oleh masyarakat setempat.
Peresmian ditandai dengan pelepasan simbolis penumpang perdana yang menyeberang menggunakan kapal feri. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonnu Wulla, Wakil Bupati Dominikus A. R. Kaka, Sekretaris Daerah Edmundus N. Nau, serta jajaran PT ASDP Indonesia Ferry. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa pengaktifan kembali jalur ini bukan sekadar pemulihan layanan transportasi, melainkan langkah strategis untuk memperkuat pembangunan daerah dan konektivitas antarpulau.
Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla menyebutkan bahwa jalur penyeberangan ini merupakan implementasi nyata visi pembangunan Kabupaten Sumba Barat Daya menuju daerah yang berkarakter, sehat, cerdas, berketahanan pangan, dan berbudaya, sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. “Lintasan ini menjadi urat nadi logistik yang sangat vital bagi konektivitas NTT dan NTB,” ujarnya.
Selain sektor ekonomi, operasional lintasan feri ini juga dinilai penting untuk mempercepat pelayanan publik. Jalur tersebut diharapkan mempermudah mobilitas masyarakat, termasuk layanan rujukan kesehatan darurat dan distribusi fasilitas pendidikan ke wilayah kepulauan. Pelabuhan Waikelo juga diproyeksikan menjadi pintu gerbang promosi budaya dan pariwisata Sumba Barat Daya yang kaya akan potensi alam dan tradisi.
Bupati menginstruksikan seluruh otoritas pelabuhan, instansi vertikal, dan organisasi perangkat daerah terkait untuk mengawal operasional secara tertib dan profesional. Ia menekankan pentingnya pelayanan bebas pungutan liar serta dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal. Masyarakat pun diajak menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan kawasan pelabuhan agar layanan berkelanjutan.
Sementara itu, kepada PT ASDP Indonesia Ferry dan nakhoda kapal, Bupati menegaskan bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama, disertai pelayanan yang humanis dan konsisten kepada seluruh penumpang. Pelepasan penumpang perdana menandai dimulainya babak baru konektivitas dan pelayanan transportasi laut bagi masyarakat Sumba Barat Daya dan sekitarnya.



