Mantan Pendeta Richard Coles Akui Langgar Hukum dengan Campurkan Abu Hewan ke Makam Manusia
Baca dalam 60 detik
- Richard Coles mengakui secara ilegal mencampurkan abu hewan peliharaan ke dalam peti jenazah manusia saat menjadi pendeta.
- Tindakan itu didasari keyakinan bahwa belas kasihan Tuhan lebih luas dari aturan hukum yang membedakan jenazah manusia dan hewan.
- Pengakuan ini muncul di Hay Literary Festival, menambah deretan kontroversi Coles yang juga pernah dilarang seumur hidup oleh Avis.

Richard Coles, mantan pendeta Gereja Inggris yang juga dikenal sebagai mantan personel band The Communards, secara terbuka mengakui telah melanggar hukum dengan menyelundupkan abu hewan peliharaan ke dalam peti jenazah manusia. Pengakuan ini disampaikan dalam sesi diskusi di Hay Literary Festival, memicu perdebatan soal batas antara aturan formal dan belas kasihan dalam praktik pemakaman.
Coles, yang melayani di Gereja St Mary the Virgin di Finedon, Northamptonshire, dari 2011 hingga 2022, mengaku kerap memanfaatkan momen ketika petugas pemakaman lengah untuk memasukkan abu anjing atau kucing ke dalam peti mati yang sudah disiapkan. โApakah Anda sudah menutup rapat peti Mrs. Haversedge?โ tanyanya pada petugas, lalu saat petugas menoleh, ia menyelipkan abu hewan tersebut.
Menurut Coles, aturan tersebut terlalu kaku dan tidak mencerminkan semangat kasih dalam ajaran Kristen. โAda keluasan dalam belas kasihan Tuhan, seperti luasnya lautan, dan tugas kita adalah hidup sesuai dengan itu,โ ujarnya. Ia juga mencontohkan pendahulunya yang melanggar aturan dengan menguburkan orang yang meninggal karena bunuh diri atau belum dibaptis di area pemakaman utama, sebelum Gereja Inggris mengubah kebijakannya pada 2015.
Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Coles. Pada Juni 2025, ia mengungkapkan bahwa dirinya mendapat larangan seumur hidup dari perusahaan penyewaan mobil Avis setelah insiden di Ibiza, Spanyol. Dalam podcast Rylan Clark, Coles menceritakan bahwa setelah masa kejayaan The Communards, ia terjerumus dalam penggunaan ekstasi dan asam, yang berujung pada kerusakan beberapa kendaraan sewaan. โMavis dari Avis sangat marah,โ kenangnya.
Pengakuan Coles tentang abu hewan ini menyoroti dilema antara kepatuhan hukum dan praktik pastoral yang manusiawi. Meskipun melanggar regulasi, banyak pihak menilai tindakannya didorong oleh empati terhadap pemilik hewan yang kehilangan. Ke depannya, kasus ini bisa menjadi pemicu diskusi tentang perlunya revisi aturan pemakaman yang lebih fleksibel di Inggris.



