West Ham Terdegradasi: Dari Puncak Eropa ke Jurang Championship, Bisakah Bangkit Kembali?
Baca dalam 60 detik
- West Ham resmi terdegradasi dari Premier League setelah 14 tahun, meski menang di laga pamungkas melawan Leeds, karena hasil pertandingan lain tak berpihak.
- Beban finansial berat menanti: pendapatan diprediksi turun 50-60%, namun aturan baru EFL tentang batas biaya skuad bisa menjadi peluang mengingat pendapatan West Ham masih jauh di atas rata-rata Championship.
- Kapten Jarrod Bowen menyatakan komitmen bertahan, namun sejumlah pemain kunci seperti Mateus Fernandes kemungkinan hengkang, sementara manajer Nuno Espirito Santo masa depannya belum jelas.

West Ham United resmi meninggalkan Premier League setelah 14 musim, sebuah kemunduran dramatis bagi klub yang hanya tiga tahun lalu merayakan trofi Eropa bersama 70.000 penggemar di London Timur. Kekalahan dalam pertandingan penentu melawan Leeds United, meski berakhir dengan kemenangan, tak cukup menyelamatkan mereka karena hasil di laga lain tak mendukung. Kini, klub menghadapi tantangan berat untuk membangun kembali skuad dan struktur finansial di tengah ketidakpastian kepemilikan dan kritik keras dari suporter.
Manajemen West Ham telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengakui kegagalan dan berjanji untuk melakukan perbaikan secara transparan. Namun, di balik itu semua, terdapat sejumlah masalah struktural yang harus segera diatasi. Salah satu yang paling krusial adalah situasi kepemilikan yang berubah. David Sullivan, yang sebelumnya sukses membawa Birmingham City dan West Ham kembali ke Premier League, kini harus bekerja tanpa mitra lamanya, David Gold, yang meninggal pada 2023. Keluarga Gold masih memegang 25,1% saham, sementara miliarder asal Republik Ceko, Daniel Kretinsky, terus menambah kepemilikannya. Pergantian di jajaran direksi, termasuk mundurnya Karren Brady, menambah ketidakstabilan.
Di atas kertas, West Ham memiliki beberapa aset berharga yang bisa dijual untuk meringankan beban finansial. Kapten Jarrod Bowen, yang baru menandatangani kontrak jangka panjang pada 2023, menjadi simbol kesetiaan di tengah badai. Ia menyatakan keinginannya untuk memimpin kebangkitan klub. Namun, gelandang Mateus Fernandes, yang dibeli seharga ยฃ40 juta, hampir pasti hengkang ke klub raksasa Eropa seperti PSG atau Manchester United. Bek El Hadji Malick Diouf juga berpotensi dijual dengan untung. Di sisi lain, sejumlah rekrutan mahal seperti Max Kilman (ยฃ40 juta) dan Niclas Fullkrug (ยฃ27 juta) justru menjadi beban karena performa buruk dan cedera.
Nasib pelatih Nuno Espirito Santo juga menjadi tanda tanya. Kontraknya masih tersisa dua tahun, namun ia belum memberikan kepastian mengenai masa depannya. Meskipun klub menginginkan stabilitas, Nuno tampaknya enggan kembali ke Championship, meski ia pernah sukses membawa Wolves promosi pada 2018. Keputusan mengenai kursi pelatih akan menjadi langkah awal yang krusial dalam menentukan arah kebangkitan West Ham.
Terlepas dari segala kesulitan, sejarah menunjukkan bahwa West Ham pernah bangkit dari keterpurukan serupa. David Sullivan memiliki pengalaman membawa klub kembali ke Premier League melalui play-off pada 2012. Namun, tantangan kali ini lebih kompleks dengan perubahan kepemilikan, beban finansial yang lebih berat, dan persaingan Championship yang semakin ketat. Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi manajemen untuk membuktikan bahwa mereka mampu belajar dari kesalahan dan membangun kembali fondasi klub yang sempat berada di puncak Eropa.



