Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: Tiga Tewas, Ratusan Penumpang Terisolasi di Lepas Pantai Afrika
Baca dalam 60 detik
- Wabah hantavirus langka melanda kapal MV Hondius di lepas pantai Tanjung Verde, menewaskan tiga orang dan menginfeksi sedikitnya empat lainnya.
- WHO menyelidiki kemungkinan penularan antarmanusia di kapal, sementara otoritas setempat memperketat protokol untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
- Rencana evakuasi medis ke Belanda dan pemindahan kapal ke Kepulauan Canary masih menunggu keputusan otoritas Spanyol.

Sebuah kapal pesiar mewah yang tengah berlayar di Samudra Atlantik, MV Hondius, menjadi pusat perhatian dunia setelah tiga penumpangnya meninggal akibat wabah hantavirus. Kapal berbendera Belanda itu saat ini terdampar di lepas pantai Tanjung Verde, Afrika Barat, dengan hampir 150 penumpang dan awak kapal yang menjalani isolasi ketat.
Otoritas kesehatan global, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tengah menyelidiki pola penyebaran virus yang biasanya ditularkan melalui kotoran hewan pengerat. Meskipun penularan antarmanusia jarang terjadi, kemungkinan tersebut tidak sepenuhnya dikesampingkan. Kapal yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions itu telah memberlakukan protokol isolasi maksimal, termasuk penggunaan masker dan pembatasan jarak sosial, sebagai respons terhadap wabah yang pertama kali terdeteksi pada awal April lalu.
Total kasus yang dilaporkan WHO: 7 (3 meninggal, 1 kritis di rumah sakit, 3 bergejala ringan di kapal).
Dua kasus positif hantavirus: seorang wanita Jerman yang meninggal di kapal dan seorang pria yang dievakuasi.
Korban pertama: pria Belanda yang meninggal pada 11 April, jenazahnya diturunkan di St. Helena.
Penumpang kapal, Qasem Elhato, mendokumentasikan situasi di dalam kapal melalui video yang dikirimkan ke Associated Press. Rekaman tersebut menunjukkan dek dan area umum yang sepi, tim medis mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, serta pemandangan laut yang tenang di sekitar kapal. “Hari-hari kami hampir normal, hanya menunggu otoritas menemukan solusi,” ujar Elhato melalui pesan WhatsApp. Ia menambahkan bahwa moral di kapal tetap tinggi, dengan penumpang mengisi waktu dengan membaca, menonton film, dan menikmati minuman hangat.
Helene Goessaert, penumpang lainnya, menyampaikan kepada penyiar Belgia VRT bahwa semua orang di kapal “berada dalam situasi yang sama, secara harfiah.” Ia mengaku menerima informasi yang akurat secara berkala, meskipun sisanya hanyalah permainan menunggu. “Hari ini kami menerima buah dan sayuran segar. Itu sangat berarti bagi kami,” katanya.
Pemerintah Tanjung Verde telah mengirimkan tim dokter, ahli bedah, perawat, dan spesialis laboratorium ke kapal. Petugas terlihat dalam video Elhato mengenakan pakaian putih, sepatu bot, dan masker saat turun ke kapal kecil. Otoritas setempat juga meningkatkan protokol keamanan di sekitar pelabuhan sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat ini.
Oceanwide Expeditions mengumumkan bahwa dua pesawat khusus sedang dalam perjalanan ke Tanjung Verde untuk mengevakuasi tiga orang yang membutuhkan perawatan medis darurat, termasuk seorang wanita Jerman yang meninggal pada Sabtu lalu. Mereka akan diterbangkan ke Belanda, meskipun waktu pasti evakuasi belum ditentukan. Setelah itu, kapal direncanakan berlayar ke Kepulauan Canary, Spanyol, dalam perjalanan sekitar tiga hari. Namun, otoritas Spanyol masih memantau situasi dan belum mengambil keputusan final mengenai pelabuhan tujuan.
WHO melaporkan bahwa dua dari tujuh kasus yang teridentifikasi—seorang wanita yang meninggal dan seorang pria yang dievakuasi—dinyatakan positif hantavirus. Korban pertama, seorang pria Belanda, meninggal pada 11 April dan jenazahnya baru diturunkan dua minggu kemudian di St. Helena, wilayah Inggris di Samudra Atlantik. Istrinya, yang melakukan perjalanan dari St. Helena ke Afrika Selatan, pingsan di bandara Johannesburg dan meninggal di rumah sakit pada 26 April. Seorang pria Inggris yang sakit juga dievakuasi dari Pulau Ascension ke Afrika Selatan dan kini dalam perawatan intensif.
Dr. Maria Van Kerkhove, Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki kemungkinan penularan antarmanusia di kapal. Ia menduga orang pertama yang terinfeksi kemungkinan besar sudah membawa virus sebelum naik kapal. Otoritas Argentina, tempat kapal berangkat pada 1 April, memastikan tidak ada penumpang yang menunjukkan gejala saat keberangkatan. Gejala hantavirus dapat muncul hingga delapan minggu setelah paparan.
Di Afrika Selatan, otoritas kesehatan telah memulai pelacakan kontak, serupa dengan praktik yang diterapkan selama pandemi COVID-19. Meskipun demikian, para pejabat menekankan bahwa risiko ancaman kesehatan masyarakat yang besar masih rendah. Wabah ini menjadi pengingat akan kerentanan perjalanan laut jarak jauh terhadap penyakit menular, terutama di tengah meningkatnya mobilitas global.



