Emma Raducanu Tersingkir di Strasbourg, Persiapan Menuju Prancis Terbuka Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Raducanu kalah 6-4, 7-6(4) dari Diane Parry di babak pertama Internationaux de Strasbourg, turnamen tanah liat pertamanya musim ini.
- Petenis Inggris berusia 23 tahun itu baru pulih dari penyakit pasca-virus yang membuatnya absen lebih dari dua bulan, dan kini hanya mengantongi satu pertandingan di permukaan tanah liat menjelang Prancis Terbuka.
- Kekalahan ini menambah kekhawatiran atas konsistensi performa Raducanu, meski ia baru saja bersatu kembali dengan pelatih Andrew Richardson yang membawanya juara US Open 2021.

Emma Raducanu, petenis putri nomor satu Inggris, harus mengakui keunggulan Diane Parry (peringkat 94 dunia) pada babak pertama Internationaux de Strasbourg, Selasa (19/5). Unggulan kedelapan turnamen itu takluk dengan skor 6-4, 7-6(4) dalam laga yang berlangsung sengit selama satu jam 56 menit.
Ini merupakan turnamen tanah liat pertama Raducanu pada 2026 setelah ia absen lebih dari dua bulan akibat penyakit pasca-virus. Mantan juara US Open 2021 itu menerima tempat pengganti di ajang WTA 500 tersebut dan kembali menggandeng Andrew Richardson, pelatih yang membawanya meraih gelar grand slam di New York.
- Raducanu melakukan 8 double fault selama pertandingan.
- Parry baru saja memenangi WTA 125 di Paris setelah lawannya, Madison Keys, mundur di final.
- Raducanu turun ke peringkat 37 dunia setelah kekalahan ini.
- Prancis Terbuka 2026 akan dimulai pada 24 Mei, dan Raducanu hanya memiliki satu pertandingan tanah liat sebagai persiapan.
Pertandingan berjalan alot sejak awal. Raducanu sempat unggul 4-2 pada set pertama, namun keunggulan itu sirna setelah ia melakukan double fault dan membiarkan Parry merebut tiga game beruntun. Parry, yang tampil di hadapan pendukungnya sendiri, sukses menutup set pertama dalam 56 menit. Pola serupa terulang di set kedua: Raducanu kembali memimpin 4-2, tetapi lagi-lagi gagal mempertahankan keunggulan. Set kedua harus ditentukan lewat tie-break, di mana Parry tampil lebih tenang dan memanfaatkan kesalahan Raducanu untuk memastikan kemenangan.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Raducanu yang tengah membangun kembali ritme permainan. Ia hanya memiliki satu pertandingan di permukaan tanah liat sebelum tampil di Roland Garros. Mantan petenis nomor satu Inggris, Tim Henman, sebelumnya mendukung keputusan Raducanu untuk kembali bekerja sama dengan Richardson. "Saya pikir bagus Andrew kembali mendukung Emma. Yang saya harap adalah kerja sama ini bertahan lebih lama," ujar Henman kepada Sky Sports. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kontinuitas, terutama menjelang musim lapangan rumput yang akan menjadi sorotan.
Laura Robson, mantan petenis Inggris lainnya, menilai kehadiran Richardson memberikan rasa nyaman bagi Raducanu. "Kembali bersama suara yang familiar, seseorang yang sudah Anda percayai, pasti terasa menenangkan," kata Robson. "Mereka memiliki ide yang sama tentang apa yang ingin dicapai di lapangan. Jelas ini pernah berhasil, jadi mengapa tidak mencoba lagi?"
Raducanu sendiri mengaku bersyukur bisa kembali bekerja sama dengan Richardson. "Saya bersyukur bisa terhubung kembali dengan seseorang yang telah mengenal saya selama lebih dari satu dekade. Saya menantikan untuk membangun bersama, satu iterasi pada satu waktu," ujarnya. Namun, hasil di Strasbourg menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum tantangan besar di Prancis Terbuka.
Dengan kekalahan ini, Raducanu dipastikan akan menjalani persiapan yang kurang ideal menuju grand slam kedua musim ini. Publik tenis Inggris pun bertanya-tanya apakah keputusan untuk kembali ke pelatih lama sudah tepat, atau justru akan mengulang siklus ketidakstabilan yang pernah terjadi sebelumnya.



