Riset BRIN: Budaya Masyarakat Ternyata Ngaruh Banget ke Tingkat Kepercayaan Polisi
Baca dalam 60 detik
- BRIN mengungkapkan bahwa budaya hukum di masyarakat menjadi salah satu faktor penentu paling utama terhadap tinggi rendahnya tingkat kepercayaan publik kepada institusi kepolisian.
- Pendekatan keadilan restoratif alias penyelesaian masalah secara kekeluargaan di tingkat lokal menjadi praktik ideal yang terbukti sukses meminimalkan kriminalitas seperti yang terjadi di Belanda.
- Saat ini Polri juga tengah didorong untuk melakukan reformasi kultural yang lebih humanis, sekaligus aktif berperan sebagai fasilitator sosial dalam mengawal keamanan dan kebutuhan masyarakat.

Halo, para pengamat isu sosial dan netizen kritis! Kalau ngomongin soal institusi kepolisian, pasti opini publik di media sosial sering banget naik-turun. Tapi tahukah kalian? Berdasarkan analisis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), naik turunnya tingkat kepercayaan masyarakat ke polisi itu ternyata sangat bergantung pada kultur atau budaya lokal dari masyarakat itu sendiri.
Melansir laporan dari Antara News pada 14 Maret 2026, Peneliti Ahli Utama BRIN, Syafuan Rozi, mengungkapkan bahwa budaya hukum memiliki peran yang sangat krusial. Ia mengambil contoh dari server luar negeri seperti Belanda yang menduduki peringkat pertama soal tingginya kepercayaan publik terhadap polisi dan minimnya angka kriminalitas. Rahasianya? Ada pada sistem budaya hukum mereka yang terbangun dengan baik.
Mengapa pendekatan budaya ini sangat penting? Berikut rinciannya:
- Keadilan Restoratif: Di negara maju seperti Belanda, mitigasi awal masalah hukum sering diselesaikan secara internal atau kekeluargaan (pendekatan hukum adat/urban law) sebelum benar-benar dilaporkan ke pihak kepolisian.
- Patch Reformasi Polri: Untuk memperbaiki sistem penegakan hukum di Indonesia, kepolisian kini mulai dibantu oleh ilmuwan politik untuk mendesain ulang reformasi kultural. Tujuannya agar aparat bisa bertugas dengan cara yang lebih ramah dan humanis—mirip polisi di Jepang atau Singapura—bukan sekadar pakai mode "jaga jarak lalu tangkap".
- Fasilitator Sosial: Di luar kasus kriminal, Polri juga sering menjalankan peran under the radar yang berdampak besar. Contohnya selama bulan Ramadhan, Polri aktif menekan tengkulak nakal demi menjaga stabilitas harga sembako, dan juga memperkuat respons call center 110 untuk memberantas gangguan kamtibmas seperti balap liar.
Membangun institusi yang bulletproof dari kritik memang nggak bisa instan. Selain sistem internal yang harus terus di-upgrade, kedewasaan masyarakat dalam menyaring informasi dan menyelesaikan masalah sosial di lingkungan sekitar juga jadi faktor penentu. Jadi, yuk mulai bangun kesadaran hukum dari diri kita sendiri, bro!
"Data tren tingkat kepercayaan publik terhadap polisi di dunia masih dipegang oleh negara Belanda sebagai negara minim kriminalitas, dan hal tersebut tidak terlepas dari tingginya budaya kesadaran hukum masyarakatnya."



