Wamenkeu Identifikasi Tiga Pemicu Krisis Global, Indonesia Dinilai Masih Aman
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memaparkan tiga sumber utama krisis ekonomi dunia berdasarkan studi historis, yaitu krisis fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan.
- Indonesia dinilai tidak menunjukkan gejala awal dari ketiga jenis krisis tersebut, dengan indikator fiskal dan eksternal yang masih dalam batas aman.
- Pernyataan ini diharapkan meredakan kekhawatiran publik terhadap potensi krisis seperti 1998, meski tetap memerlukan kewaspadaan terhadap risiko global.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalaman berbagai negara, terdapat tiga sumber utama yang memicu krisis ekonomi global. Dalam sambutannya di Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026), ia menegaskan bahwa Indonesia saat ini jauh dari kondisi krisis tersebut.
Juda menjelaskan bahwa sumber krisis pertama adalah krisis fiskal, seperti yang dialami negara-negara Amerika Latin pada dekade 1980-an. Saat itu, defisit anggaran membengkak dan pemerintah kehilangan kepercayaan investor sehingga tidak mampu membiayai utang publik. Indonesia dinilai berbeda karena defisit fiskal masih terkendali di bawah 3% dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) stabil di kisaran 6,5%β6,7%, menandakan kepercayaan investor masih tinggi.
Kedua, krisis neraca pembayaran yang pernah melanda Indonesia pada 1997β1998. Saat itu, banyak perusahaan menarik dana luar negeri secara besar-besaran, nilai tukar melemah, dan terjadi penghentian mendadak arus modal asing. Juda menilai kondisi neraca pembayaran Indonesia saat ini relatif sehat dan seimbang, sehingga risiko serupa tidak terlihat.
Terakhir, krisis sistem keuangan yang dipicu oleh ekspansi kredit berlebihan dan gelembung aset, seperti krisis 2008 di Amerika Serikat. Juda menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda gelembung atau kolaps perbankan di Indonesia saat ini.
Pernyataan ini sekaligus merespons kekhawatiran sebagian pihak yang membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis 1998. Juda menekankan bahwa data terkini tidak menunjukkan adanya tekanan fiskal, eksternal, maupun sistemik yang mengarah pada krisis. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dinamika ekonomi global yang cepat berubah.
Ke depan, stabilitas makroekonomi dan kebijakan fiskal yang prudent menjadi kunci untuk menjaga Indonesia tetap berada di jalur aman. Investor dan pelaku pasar diharapkan terus memantau indikator-indikator tersebut sebagai sinyal awal potensi risiko.



