Kasus Ganjil di Kubu Raya: Santri Meninggal Disebut Alergi Obat, tapi Wajah Penuh Lebam
Baca dalam 60 detik
- Seorang santri di Kubu Raya meninggal dunia setelah sebelumnya ditemukan tak sadarkan diri dengan klaim awal akibat alergi parasetamol dari pihak pondok pesantren.
- Orangtua korban menemukan kejanggalan fatal karena wajah anaknya dipenuhi lebam bengkak di bagian mata dan terdapat benjolan besar di kening.
- Kecurigaan mengenai adanya tindak penganiayaan semakin kuat setelah dokter rumah sakit menemukan indikasi trauma kepala pada korban.

Sebuah kasus tragis dan penuh tanda tanya baru saja mencuat dari Kalimantan Barat. Mengutip laporan dari Kompas pada 13 Maret 2026, seorang santri berinisial IZA asal Kayong Utara dilaporkan meninggal dunia dengan kondisi fisik yang sangat mencurigakan setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit Pontianak.
Awalnya, pihak Pondok Pesantren Labbaik Indonesia di Kubu Raya mengabari orangtua korban bahwa anak mereka tak sadarkan diri akibat reaksi alergi parasetamol. Namun, alangkah terkejutnya sang ayah, Ahmad Edi Santoso, ketika melihat langsung kondisi IZA. Alih-alih terlihat seperti korban alergi obat biasa, wajah korban justru babak belur, kedua matanya bengkak parah hingga nyaris tertutup, serta terdapat benjolan besar di area kening.
Berikut adalah temuan analitis dari kejanggalan kasus ini:
- Diagnosa Awal Medis: Dokter jaga di RS Anton Soedjarwo Bhayangkara yang pertama kali menangani korban secara terang-terangan menyebut adanya indikasi trauma di bagian kepala.
- Bantahan Fisik: Kondisi lebam berwarna gelap di sekitar mata dan pipi sangat kontras dengan klaim "alergi obat" yang dilontarkan oleh perwakilan pesantren.
- Rujukan Terakhir: Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat dirujuk ke dokter spesialis bedah saraf di RSU Santo Antonius Pontianak untuk penanganan lebih lanjut.
Melihat rentetan fakta medis dan bukti fisik pada tubuh korban, argumen alergi dari pihak institusi jelas mengundang kecurigaan besar akan adanya tindak kekerasan fisik. Kasus ini menuntut pihak kepolisian untuk segera memproses investigasi forensik secara transparan agar penyebab pasti kematian IZA bisa diungkap dengan sains, bukan sekadar asumsi sepihak.
"Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, anatomi tubuh korban adalah data otentik yang tidak bisa direkayasa oleh narasi pembelaan apa pun."



