Ledakan Tambang Batu Bara di Shanxi Tewaskan 82 Orang, Presiden Xi Minta Investigasi
Baca dalam 60 detik
- Ledakan gas di tambang Liushenyu, Shanxi, menewaskan sedikitnya 82 orang dan melukai puluhan lainnya, menjadikannya kecelakaan tambang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di China.
- Presiden Xi Jinping menyerukan investigasi menyeluruh dan tindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab, sementara otoritas setempat mengakui adanya pelanggaran serius dan informasi keliru dari operator tambang.
- Insiden ini memicu inspeksi besar-besaran sektor pertambangan batu bara di Shanxi, yang berpotensi mengganggu produksi tahunan sekitar 1,3 miliar ton—hampir sepertiga dari total produksi nasional China.

Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, China utara, pada Jumat malam lalu telah menewaskan sedikitnya 82 orang. Peristiwa ini menjadi kecelakaan tambang paling mematikan yang terjadi di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Tim penyelamat masih terus berupaya mencari dua orang yang dilaporkan hilang, sementara puluhan penambang lainnya dirawat di rumah sakit.
Presiden China Xi Jinping langsung memerintahkan investigasi menyeluruh dan meminta agar pihak-pihak yang bertanggung jawab diadili. Dalam konferensi pers Sabtu malam, pejabat setempat mengakui bahwa angka kematian semula dilaporkan 90 orang, namun kemudian direvisi menjadi 82 karena kekacauan di lokasi dan data keliru yang disampaikan oleh operator tambang. Otoritas setempat menyebut tambang tersebut telah melanggar hukum secara serius, meski tidak merinci pelanggaran spesifiknya.
Laporan dari penyiar negara CCTV mengungkapkan bahwa peta bawah tanah yang disediakan oleh operator tambang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, sehingga menghambat upaya penyelamatan. Sementara itu, Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa pihak yang bertanggung jawab di balik perusahaan tambang telah diamankan. Beberapa penambang yang selamat menceritakan bahwa mereka melihat asap tebal saat ledakan terjadi dan kemudian pingsan.
Pasca-insiden, pemerintah daerah mengumumkan akan melakukan inspeksi menyeluruh terhadap sektor pertambangan batu bara, termasuk memeriksa sistem drainase gas, ventilasi, pemantauan keselamatan, dan tata letak bawah tanah. Langkah ini berpotensi menekan kapasitas produksi Shanxi yang mencapai sekitar 1,3 miliar ton per tahun—hampir sepertiga dari total produksi batu bara China. Provinsi dengan populasi 34 juta jiwa ini merupakan pusat pertambangan batu bara utama China, tempat ratusan ribu penambang bekerja.
Meskipun China terus mempercepat transisi energi hijau, batu bara masih menjadi sumber energi utama karena ketersediaannya yang melimpah dan biaya yang rendah. Kecelakaan tambang dulu sering terjadi, dan otoritas telah menerapkan berbagai langkah untuk meningkatkan keselamatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa tantangan keselamatan di sektor ini masih jauh dari selesai. Ke depan, efektivitas inspeksi massal dan penegakan hukum akan menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.



