Diplomasi "America First" kembali berbenturan dengan kepentingan ekonomi Eropa. Di tahun 2026, hubungan antara Washington dan Berlin memasuki fase yang paling tidak menentu dalam satu dekade terakhir.
Berdasarkan laporan dari AsiaOne, atmosfer di Gedung Putih terasa sangat dingin saat Presiden Trump menerima Kanselir Friedrich Merz. Inti dari perselisihan ini adalah klaim intelijen AS yang menyatakan bahwa komponen industri Jerman masih mengalir ke Iran, yang diduga digunakan dalam pengembangan misil dan drone yang menghantam pangkalan koalisi di Bahrain minggu lalu. Meskipun Merz mencoba menekankan peran Jerman sebagai pilar NATO di Eropa, Trump bersikeras bahwa "kesetiaan tidak bisa dibagi dua antara Washington dan Teheran."
Poin-Poin Utama Perselisihan:
- Sanksi Sekunder: Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi pada perusahaan otomotif dan teknologi Jerman jika mereka tidak segera menarik diri sepenuhnya dari pasar Iran.
- Anggaran Pertahanan: Washington menuntut Jerman meningkatkan kontribusi NATO melampaui 2% PDB sebagai kompensasi atas "risiko keamanan" yang ditimbulkan oleh perdagangan mereka.
- Energi: Perbedaan pandangan mengenai jalur suplai energi Eropa di tengah ketegangan Timur Tengah yang terus meningkat.
Secara objektif, tuduhan ini menempatkan Kanselir Merz dalam posisi yang sangat sulit di dalam negeri. Jerman sedang berusaha menyeimbangkan pemulihan ekonomi dengan loyalitas militer kepada AS. Di tahun 2026 ini, keberanian Trump untuk mengonfrontasi sekutu terdekatnya menunjukkan bahwa ia tidak ragu untuk merombak arsitektur keamanan global demi mencapai tujuan geopolitiknya. Fokus dunia kini tertuju pada Brussels: apakah Uni Eropa akan bersatu mendukung Jerman, atau justru terjadi perpecahan internal dalam menghadapi tekanan Amerika.




