Keamanan siber bagi pekerja media kembali terancam oleh penggunaan perangkat pengintai tingkat lanjut. Laporan terbaru dari TechCrunch dan riset keamanan pada 17 Februari 2026 mengungkapkan bahwa spyware Predator, yang dikembangkan oleh perusahaan Intellexa, telah digunakan untuk meretas perangkat iPhone milik seorang jurnalis investigasi di Angola. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun telah ada sanksi internasional terhadap grup Intellexa, infrastruktur pengintaian mereka tetap aktif dan terus menargetkan suara-suara kritis di wilayah dengan tensi politik tinggi.
Mekanisme Infeksi dan Efek Destruktif
Predator dikenal sebagai salah satu kompetitor utama Pegasus (dari NSO Group) yang mampu melakukan eksploitasi zero-click atau serangan melalui tautan yang dimanipulasi secara canggih. Fokus riset menunjukkan bahwa dalam kasus di Angola, peretasan dilakukan untuk mendapatkan akses penuh ke mikrofon, kamera, pesan terenkripsi, dan data lokasi korban. Hal ini memungkinkan aktor di balik serangan tersebut memantau sumber-sumber berita jurnalis tersebut secara real-time, yang secara langsung mengancam keselamatan fisik para informan dan integritas karya jurnalistik di negara tersebut.
Kasus ini menyoroti kegagalan pengawasan global terhadap industri "tentara siber bayaran" (cyber-mercenary). Fokus utama dari temuan ini adalah bagaimana Intellexa mampu melakukan rebrand atau memindahkan infrastruktur teknis mereka guna menghindari deteksi sanksi dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bagi para ahli keamanan, peretasan iPhone—yang selama ini dianggap memiliki standar keamanan tinggi—melalui eksploitasi Predator membuktikan bahwa perlindungan perangkat lunak selalu selangkah di belakang dibandingkan dengan inovasi perangkat pengintai yang didanai oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan otoriter.
Tuntutan Perlindungan Terhadap Pers
Munculnya bukti baru peretasan di Angola memicu gelombang tuntutan dari organisasi kebebasan pers internasional agar perusahaan teknologi seperti Apple terus memperkuat fitur perlindungan seperti Lockdown Mode. Fokus utama ke depan adalah menekan pemerintah dunia untuk melarang penggunaan teknologi pengawasan lintas batas yang tidak memiliki regulasi ketat. Di tahun 2026, serangan terhadap satu jurnalis melalui alat seperti Predator dianggap sebagai serangan terhadap pilar demokrasi global, yang menuntut transparansi lebih besar dari perusahaan penyedia teknologi pengintaian tersebut.




