Tottenham Hotspur resmi menunjuk Igor Tudor sebagai manajer interim hingga akhir musim 2025/2026 menyusul pemecatan Thomas Frank. Keputusan ini diambil saat Spurs berada di posisi ke-16, hanya terpaut lima poin dari zona degradasi. Penunjukan pelatih asal Kroasia ini dipandang sebagai upaya "pemadam kebakaran" untuk menyelamatkan klub dari bencana domestik sembari tetap menjaga asa di babak 16 besar Liga Champions. Berdasarkan laporan Goal.com, Tudor membawa reputasi sebagai pelatih dengan intensitas tinggi yang mampu memberikan dampak instan, namun tantangannya di Premier League akan sangat berat.
Filosofi Permainan: "Jika Tidak Berlari, Anda Tidak Bermain"
Igor Tudor dikenal sebagai penganut setia sistem 3-4-2-1 yang sangat agresif. Berbeda dengan pendekatan Thomas Frank yang lebih konservatif di akhir masa jabatannya, Tudor menuntut pressing man-to-man yang intens dan transisi vertikal yang sangat cepat. Karakter kepelatihannya sering dibanding-bandingkan dengan Gian Piero Gasperini atau Ivan Juric—fokus pada fisik dan disiplin tanpa kompromi. Semboyannya sederhana namun keras: pemain yang tidak sanggup berlari sepanjang laga tidak akan mendapatkan tempat di susunan pemain utamanya.
Bagi skuad Spurs yang tengah dihantam badai cedera (absennya James Maddison dan Dejan Kulusevski), kedatangan Tudor diharapkan menjadi "kejutan listrik" bagi moral tim. Tantangan utamanya adalah mengintegrasikan sistem tiga bek yang menuntut kebugaran tinggi pada wing-back seperti Destiny Udogie dan Pedro Porro dalam waktu singkat. Tudor memiliki rekam jejak sukses menyelamatkan Udinese dari degradasi pada 2018, sebuah pengalaman yang sangat relevan dengan kondisi Spurs saat ini. Namun, riwayatnya yang sering berselisih dengan manajemen klub dan kegagalannya di Juventus musim ini (dipecat setelah delapan laga tanpa kemenangan) menjadi catatan risiko bagi dewan direksi Tottenham.
Misi Penyelamatan Menuju Derby London Utara
Tudor akan langsung menghadapi ujian api dalam laga debutnya melawan rival abadi, Arsenal, pekan depan. Fokus utamanya dalam waktu dekat bukan hanya revolusi taktis, melainkan menstabilkan ruang ganti yang mulai kehilangan kepercayaan diri. Dengan pintu yang tetap terbuka bagi kembalinya Mauricio Pochettino atau Roberto De Zerbi di musim panas nanti, tugas Tudor sangat jelas: menjadi "ferryman" yang membawa kapal Tottenham melintasi badai degradasi menuju pelabuhan yang aman. Keberhasilan di Liga Champions akan menjadi bonus besar, namun kelangsungan hidup di Premier League adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.




