Di tengah perdebatan sengit mengenai alokasi anggaran negara, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan pembelaan yang vokal terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam laporan yang dilansir JPNN pada 13 Februari 2026, Purbaya secara tegas meminta masyarakat dan kritikus untuk berhenti memprotes program andalan pemerintah ini. Ia menekankan bahwa MBG bukan sekadar program sosial karitatif, melainkan stimulus ekonomi vital yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat lapisan bawah saat ini.
Efek Multiplier: Dari Piring ke Dompet Rakyat
Argumen utama Purbaya berpusat pada konsep economic multiplier effect. Ia menjelaskan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan negara untuk MBG tidak menguap begitu saja, melainkan berputar langsung di ekonomi lokal. Dana tersebut menghidupkan kembali warung-warung makan, dapur umum komunitas, petani sayur, peternak telur, hingga jasa logistik skala kecil di daerah-daerah.
"Jangan protes, ini program yang diperlukan masyarakat," tegasnya. Menurut pandangan Purbaya, kritik yang hanya berfokus pada beban fiskal sering kali mengabaikan dampak riil di lapangan. Dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu, suntikan likuiditas langsung ke sektor riil melalui pengadaan pangan dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencegah kontraksi ekonomi di tingkat akar rumput.
Investasi Jangka Panjang vs Beban Jangka Pendek
Pernyataan bos LPS ini memberikan perspektif baru dalam diskursus publik. Sementara para teknokrat fiskal khawatir akan defisit anggaran, Purbaya melihat MBG sebagai investasi sumber daya manusia (SDM) yang juga berfungsi sebagai jaring pengaman sosial ekonomi. Tantangannya kini adalah memastikan tata kelola yang transparan agar dana triliunan rupiah tersebut benar-benar sampai ke piring penerima manfaat dan kantong pedagang kecil, tanpa bocor di tengah jalan.




