Sarri Sebut Kekuatan Mental Lebih Krusial dari Taktik Jelang Atalanta vs Kairat
Baca dalam 60 detik
- Maurizio Sarri menilai kondisi psikologis skuad Atalanta lebih menentukan hasil laga kontra Kairat Almaty ketimbang persiapan taktis.
- Krisis cedera memaksa Sarri menurunkan pemain muda Javison Idele sejak menit pertama pada duel di New Balance Arena, Bergamo.
- Kairat Almaty yang baru berganti pelatih menjadi ancaman tersembunyi karena minimnya rekaman pertandingan yang bisa dianalisis.

Maurizio Sarri menegaskan bahwa kekuatan mental, bukan sekadar racikan taktik, akan menjadi penentu utama ketika Atalanta menjamu Kairat Almaty pada matchday Conference League di New Balance Arena, Bergamo, Kamis (7/11/2024) pukul 18.45 CET. Pernyataan itu muncul di tengah tekanan berat yang menimpa La Dea belakangan ini.
Atalanta memang sedang tidak berada di jalur yang mulus. Dari enam pertandingan terakhir di semua kompetisi, mereka hanya mampu meraih dua hasil imbang. Puncaknya, kekalahan 0-3 dari Parma—tim yang berjuang menghindari degradasi—di hadapan pendukung sendiri pada Senin lalu memicu keputusan manajemen menggelar retret latihan intensif selama tiga hari. Situasi ini kontras dengan ekspektasi awal musim, ketika kedatangan Sarri diharapkan membawa perubahan gaya bermain yang lebih progresif.
Namun, adaptasi terhadap pendekatan taktis yang berbeda dari dekade sebelumnya terbukti lebih rumit dari perkiraan. Sarri pun menghadapi dilema klasik: membenahi mentalitas tim di tengah badai cedera yang menggerus kedalaman skuad. Sejumlah nama penting seperti Thomas Kristensen, Gianluca Gaetano, Raoul Bellanova, Franck Kessie, Sead Kolasinac, Isak Hien, Giacomo Raspadori, dan Odilon Kossounou dipastikan absen. Alhasil, bek muda Javison Idele dari tim primavera dipercaya tampil sebagai starter untuk pertama kalinya di level senior.
Di sisi lain, Kairat Almaty datang dengan status tim yang sulit diprediksi. Klub asal Kazakhstan itu baru saja mengganti pelatih menjelang berakhirnya musim domestik mereka. Zhora Arutyunyan, yang sebelumnya menangani tim U-19, ditunjuk sebagai pelatih interim menggantikan Rafael Urazbakhtin dan langsung membawa Kairat bermain imbang 1-1 melawan Altay Oskemen pada 31 Oktober. Minimnya rekaman pertandingan membuat Sarri mengaku hanya bisa mempelajari karakteristik individu pemain, bukan pola permainan kolektif lawan.
"Kairat mengubah pelatih tepat sebelum musim domestik berakhir, jadi ada misteri taktis tentang bagaimana mereka akan bermain. Kami hanya bisa mempelajari apa yang tersedia, dan itu pun tidak banyak," ujar Sarri kepada Sky Sport Italia.
Meski demikian, Sarri enggan menganggap remeh calon lawannya. Ia justru menyoroti rekam jejak Kairat yang disebutnya pernah memberikan perlawanan sengit di kompetisi Eropa. Menurutnya, kekalahan tipis Kairat dari Inter Milan dan di London pada musim lalu menjadi bukti bahwa tim tersebut bukan lawan yang bisa dihadapi dengan sebelah mata. "Ada bahaya tersembunyi," tegasnya.
Di kubu Atalanta, perjalanan di Conference League sejauh ini juga belum sepenuhnya mulus. Mereka membuka kampanye dengan kemenangan 3-1 atas Pafos, tetapi kemudian takluk 0-2 dari Ajax di Amsterdam. Kekalahan itu memperlihatkan kerentanan lini belakang ketika menghadapi tim dengan transisi cepat. Kini, dengan komposisi pemain yang compang-camping, Sarri dituntut meramu strategi yang tidak hanya memperhitungkan kekuatan lawan, tetapi juga daya tahan psikologis anak asuhnya.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan Atalanta ini mencerminkan tantangan yang kerap dihadapi klub-klub Serie A ketika harus bersaing di kompetisi Eropa dengan skuad terbatas. Jadwal padat domestik dan Eropa sering kali berbenturan dengan krisis cedera, memaksa pelatih mengambil keputusan sulit antara memprioritaskan liga atau turnamen kontinental. Bagi Sarri, laga melawan Kairat bisa menjadi momen untuk membuktikan bahwa retret tiga hari yang dijalani timnya mampu membangun kembali fondasi mental yang sempat runtuh.
Pertanyaannya, apakah Atalanta mampu mengubah tekanan menjadi energi positif, atau justru semakin terpuruk jika hasil buruk kembali menghampiri? Jawabannya akan terlihat di Bergamo, dan mungkin menjadi titik balik—atau justru awal dari krisis yang lebih panjang.



