Piala Asia 2027 Bergeser ke Akhir Tahun, Uji Coba Lawan Belanda Jadi Opsi Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- AFC memindahkan Piala Asia 2027 ke 23 Desember 2027–21 Januari 2028, memberi Timnas Indonesia waktu persiapan tambahan hampir setahun.
- Pengamat menilai laga uji coba melawan Belanda masuk akal karena mayoritas pemain diaspora Garuda berakar dari negeri itu.
- Penundaan juga memberi ruang pemulihan bagi pemain cedera seperti Ole Romeny, Mees Hilgers, Jay Idzes, dan Kevin Diks.

Keputusan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menunda Piala Asia 2027 hingga 23 Desember 2027–21 Januari 2028 mengubah peta persiapan Timnas Indonesia. Alih-alih bersiap untuk turnamen awal tahun, skuad Garuda kini memiliki rentang waktu hampir satu tahun tambahan—sebuah anugerah tak terduga yang bisa dimanfaatkan untuk menguji kekuatan melawan tim sekelas Belanda.
Pengamat sepak bola nasional Aris Budi Sulistyo menilai jeda panjang itu sebaiknya tidak disia-siakan. Menurutnya, Timnas Indonesia perlu menjajal tim papan atas dunia agar kualitas permainan meningkat sebelum tampil di Grup F bersama Thailand, Qatar, dan Jepang. Belanda disebutnya sebagai kandidat ideal karena kedekatan historis dan ikatan darah para pemain diaspora.
“Tidak ada salahnya Indonesia mengajak uji coba Timnas Belanda. Bagaimanapun pemain-pemain diaspora kita banyak dari Belanda, setidaknya bisa semakin banyak belajar dari tim kelas dunia,” ujar Aris Budi kepada Bola.com, Sabtu (7/11/2026).
Penundaan ini sejatinya bukan tanpa sebab. Situasi keamanan di Timur Tengah sempat membuat nasib Piala Asia 2027 tidak pasti. AFC akhirnya memilih menggeser jadwal demi keselamatan peserta. Bagi Indonesia, keputusan itu justru membuka ruang perbaikan yang lebih luas, terutama karena PSSI menyebut penundaan sebagai keuntungan.
Sejumlah pemain kunci masih berjuang melawan cedera. Ole Romeny harus menepi beberapa bulan akibat cedera engkel di Fortuna Sittard. Mees Hilgers baru pulih dari cedera ACL dan mulai menemukan performa di Heerenveen. Jay Idzes absen lama karena cedera otot paha dan melewatkan FIFA ASEAN Cup 2026, sementara Kevin Diks berangsur kembali ke kondisi terbaik. Dengan tambahan waktu, proses pemulihan mereka bisa lebih optimal tanpa terburu-buru.
Di sisi lain, agenda FIFA Matchday November ini justru kosong. Indonesia memilih berlatih di Bali setelah batal menghadapi Yordania karena faktor keamanan. Ketiadaan lawan berkualitas menjadi masalah tersendiri. Karena itu, Aris Budi mendorong agar uji coba resmi berikutnya benar-benar mendatangkan tim sekelas Belanda. De Oranje—julukan Belanda—memang bukan lawan sembarangan. Mereka diperkuat nama-nama seperti Virgil van Dijk, Cody Gakpo, Denzel Dumfries, hingga Tijjani Reijnders, kakak dari pemain Indonesia Eliano Reijnders.
Secara historis, Indonesia dan Belanda sudah tiga kali bertemu. Pada 13 Juni 1982 di President Cup Korea Selatan, Indonesia tumbang 0-4. Dua tahun kemudian di Merlion Cup Singapura, Garuda kembali kalah 0-3. Terakhir, 7 Juni 2013 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Indonesia yang dilatih Jacksen F. Tiago menyerah 0-3 dari Belanda yang saat itu diperkuat Robin van Persie dan Arjen Robben. Meski selalu kalah, pengalaman menghadapi tim elite tetap bernilai bagi perkembangan pemain.
“Dari situ nanti, Timnas Indonesia benar-benar sudah mengantongi komposisi tim yang benar-benar menjadi andalan di Piala Asia nanti,” tandas Aris Budi.
Belanda saat ini berada di peringkat ke-9 dunia. Pada Piala Dunia 2026, mereka terhenti di babak 32 besar setelah kalah adu penalti dari Maroko. Meski demikian, kualitas skuad asuhan Xavi Hernandez itu tetap di atas Indonesia. Menghadapi mereka bisa menjadi tolok ukur seberapa jauh perkembangan sepak bola nasional di bawah pelatih John Herdman.
Dengan waktu persiapan yang membentang hingga akhir 2027, Timnas Indonesia punya peluang emas untuk membangun kekuatan. Pertanyaannya, apakah PSSI dan staf pelatih akan memanfaatkan momentum ini untuk menjajal lawan-lawan kelas dunia, atau justru membiarkannya berlalu tanpa uji coba berarti?



