Bourdais: Regulasi Kategori FIA Paksa Veteran Pensiun Dini
Baca dalam 60 detik
- Sébastien Bourdais kehilangan kursi Cadillac di WEC 2027 karena status platinum yang membatasi peluangnya.
- Regulasi FIA yang membagi pembalap berdasarkan usia dan rating dinilai merugikan profesional berpengalaman.
- Bourdais masih membuka opsi di GT, LMP2, atau Hypercar asalkan ada tim yang menginginkannya.

Pembalap veteran Sébastien Bourdais menyatakan kekecewaannya terhadap sistem kategorisasi pembalap FIA yang dinilai menutup pintu bagi pembalap berpengalaman seperti dirinya. Setelah dipastikan tidak lagi memperkuat Cadillac di ajang World Endurance Championship (WEC) musim depan, pria berusia 47 tahun itu merasa aturan tersebut justru mempercepat pensiun dini.
Bourdais akan menyelesaikan balapan terakhirnya bersama Cadillac pada seri final WEC di Monza, Italia, akhir pekan ini. Tim pabrikan Jota telah merekrut Antonio Felix da Costa dan Ricky Taylor untuk lini Hypercar 2027, sehingga posisi Bourdais tidak lagi tersedia. Keputusan ini membuatnya harus mencari kursi baru di usia yang tidak lagi muda.
Dalam wawancara dengan Motorsport.com, Bourdais mengungkapkan bahwa statusnya sebagai pembalap platinum—rating tertinggi dalam klasifikasi FIA—justru menjadi penghalang. Sebab, banyak tim di ajang sportscar menyediakan kursi khusus untuk pembalap dengan rating silver atau bronze, yang biasanya berusia lebih muda atau memiliki pengalaman lebih sedikit. “Sayangnya, kategorisasi untuk pembalap seperti saya justru menghantarkan pada pensiun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa rating platinum akan melekat padanya hingga usia 55 tahun, lalu berubah menjadi gold, dan baru pada usia 60 tahun mungkin turun menjadi silver. Sementara itu, pembalap lain seperti Emmanuel Collard bisa mendapatkan rating silver tepat saat menginjak usia 50 tahun. “Itu akan sangat menyenangkan, tetapi kenyataannya tidak demikian. Memang menyebalkan, tetapi itulah yang terjadi,” tambah Bourdais.
Meski kehilangan kursi di Cadillac, Bourdais belum menutup peluang untuk tetap berkompetisi. Ia mengaku sedang menjalin komunikasi dengan beberapa pihak, tetapi belum ada kontrak yang final. “Ada pembicaraan, tetapi belum ada yang mengarah pada kontrak. Beberapa orang sedang kami ajak diskusi,” katanya. Ia juga menepis kemungkinan kembali ke IndyCar, yang menurutnya sangat kecil peluangnya.
Bourdais menegaskan bahwa ia terbuka pada berbagai jenis mobil balap, baik GT, LMP2, maupun Hypercar, asalkan ia diterima di lingkungan yang mendukung. “Yang saya inginkan hanyalah membalap dalam program di mana seseorang benar-benar menginginkan saya mengendarai mobilnya. Bagi saya, di situlah saya selalu tampil maksimal dan merasa senang,” tuturnya. “Saya tidak perlu kategori tertentu untuk merasa di rumah. Ketika Anda seorang profesional dan beruntung bisa membalap, entah itu GT, P2, atau GTP, tidak masalah. Anda bisa bersenang-senang di seri apa pun.”
Semangatnya untuk terus membalap pun tidak surut. “Tidak ada yang membuat saya bergairah seperti mengendarai mobil balap. Itu masih hal yang paling saya nikmati,” ujarnya. “Saya tahu ini tidak akan bertahan 10 tahun lagi. Ketika semuanya berakhir, tidak ada jalan kembali. Saya tidak terburu-buru untuk melihatnya hilang. Saya punya banyak waktu untuk menikmati masa pensiun.”
Mengenang masa baktinya bersama Cadillac, Bourdais menyebut balapan 24 Hours of Le Mans tahun ini sebagai momen paling berkesan. “Ada beberapa momen bagus. Tentu saja finis 1-2 di Sao Paulo tahun lalu. Itu membuat keputusan untuk tidak melanjutkan menjadi sedikit pahit,” kenangnya. “Tetapi pada akhirnya, titik tertinggi adalah akhir pekan Le Mans kami tahun ini. Kami sangat kompetitif dan bisa memimpin Le Mans lagi serta merasa memiliki peluang nyata untuk menang secara keseluruhan. Itu momen yang sangat keren.”
Ia juga menilai musim ini bersama tim JOTA sebagai pencapaian terbaik, dengan hasil konsisten di tiga balapan terakhir. “Bagi saya, tahun ini adalah puncak program JOTA. Kami finis kedua, keempat, dan keempat dalam tiga balapan terakhir dengan mobil yang mengumpulkan poin terbanyak dalam tiga event tersebut. Jadi ya, kami hanya akan mencoba mempertahankan tren ini,” jelasnya.
Menjelang balapan terakhirnya di Monza, Bourdais mengaku belum merasa emosional. “Belum. Saya sudah punya banyak waktu untuk memikirkannya. Pada akhirnya, Anda harus menghadapinya seperti akhir pekan balapan biasa. Targetnya sama seperti biasanya, mencoba melakukan yang terbaik sesuai dengan level performa yang kami miliki akhir pekan ini,” ujarnya. Ia optimistis sirkuit Monza akan lebih cocok dengan karakter mobil mereka dibandingkan Barcelona. “Saya pikir potensi dan kualitas mobil seharusnya lebih sesuai dengan Monza daripada Barcelona. Tidak ada batasan tinggi atau rendah untuk hasil, lakukan saja yang terbaik. Jika itu podium atau kemenangan, akan sangat menyenangkan bisa finis dengan baik.”
Kasus Bourdais menyoroti sisi lain dari regulasi FIA yang bertujuan menyeimbangkan kompetisi dengan memberi kesempatan kepada pembalap non-platinum. Namun, aturan ini dianggap menghukum pembalap senior yang masih kompetitif. Di tengah persaingan sportscar yang semakin ketat, keputusan FIA untuk meninjau ulang sistem kategorisasi mungkin perlu dilakukan agar tidak ada talenta berpengalaman yang tersingkir sebelum waktunya. Pertanyaannya, akankah FIA merevisi aturan ini sebelum semakin banyak veteran bernasib sama?



