Di Balik 165.000 Lapangan Kerja Baru AS, 2 Juta Orang Terjebak Nganggur Lebih dari Setengah Tahun
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata masa pencarian kerja di AS menembus 27,1 minggu pada Oktober, level terpanjang di luar periode pandemi dalam satu dekade terakhir.
- Sekitar dua juta warga kehilangan pekerjaan lebih dari 26 minggu dan sebagian besar sudah kehabisan tunjangan pengangguran.
- Pasar kerja yang membeku—sedikit PHK tetapi juga sedikit rekrutmen—berisiko menciptakan pengangguran struktural yang sulit dipulihkan.

Laporan tenaga kerja Amerika Serikat untuk Oktober kembali menunjukkan angka yang menggembirakan: 165.000 lapangan kerja baru tercipta dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen. Namun di balik permukaan yang mengilap itu, sebuah tren yang mengganggu sedang mengakar—orang yang kehilangan pekerjaan kini butuh waktu jauh lebih lama untuk kembali bekerja. Rata-rata masa menganggur mencapai 27,1 minggu pada Oktober, atau hampir tujuh bulan, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS). Angka itu merupakan yang tertinggi di luar masa pandemi sejak 2016, ketika pasar kerja AS baru pulih dari krisis finansial 2008.
Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar dua juta orang telah menganggur selama 27 minggu atau lebih. Kelompok yang disebut pengangguran jangka panjang ini mencakup 27,6 persen dari seluruh penganggur pada Oktober, proporsi terbesar sejak akhir 2021. Temuan tersebut membalik narasi bahwa pasar kerja sedang panas. Ekonom senior Indeed, Cory Stahle, mengakui data bulanan bisa berfluktuasi, tetapi ia menegaskan bahwa dalam rentang waktu lebih panjang arah trennya tidak bisa disangkal.
Kondisi ini lahir dari apa yang oleh para ekonom disebut pasar kerja "sedikit merekrut, sedikit memecat". Perusahaan menahan diri untuk tidak melakukan PHK besar-besaran, tetapi juga enggan menambah karyawan baru. Akibatnya, mereka yang terlempar dari pekerjaan terjebak di zona abu-abu: tidak dipecat, tetapi juga tidak direkrut. Fenomena ini diperparah oleh gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah perusahaan besar. Disney, misalnya, bulan lalu mengumumkan pemangkasan tenaga kerja sebesar 5 persen seiring upaya perusahaan beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan.
Dampaknya tidak sekadar soal pendapatan yang hilang. Riset menunjukkan bahwa pengangguran berkepanjangan menguras tabungan, menurunkan potensi penghasilan di masa depan, dan memperburuk kesehatan mental. Peneliti dari Federal Reserve Bank of Richmond dalam tulisan awal tahun ini memperingatkan adanya lingkaran setan: semakin lama seseorang menganggur, semakin kecil peluangnya untuk diterima kerja. Keterampilan yang menurun, jaringan profesional yang menipis, dan sinyal negatif yang ditangkap perusahaan dari celah karier yang panjang menjadi penyebabnya.
"Sekarang, rata-rata penganggur butuh waktu lebih lama untuk menemukan pekerjaan daripada masa berlaku tunjangannya. Itu poin yang sangat krusial," kata Stahle.
Karena tunjangan pengangguran umumnya berhenti setelah 26 minggu, meningkatnya jumlah pengangguran jangka panjang juga menjelaskan mengapa klaim tunjangan baru dan lanjutan tetap rendah. Artinya, angka klaim yang rendah bukanlah tanda pasar kerja yang sehat, melainkan cerminan bahwa banyak orang sudah tidak lagi berhak mengajukan klaim. Di sisi lain, lowongan kerja pada September tercatat lebih tinggi dari perkiraan, dan jumlah pekerja yang mengundurkan diri—indikator kepercayaan diri untuk pindah kerja—melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2025. Namun PHK dan pemutusan hubungan kerja justru turun ke volume terendah dalam lebih dari setahun.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai mitra dagang dan tujuan investasi, perlambatan rekrutmen di AS dapat menekan permintaan terhadap barang ekspor dan mengurangi aliran modal. Lebih dari itu, fenomena pengangguran jangka panjang mengingatkan bahwa angka pengangguran terbuka yang rendah tidak selalu mencerminkan kualitas pasar kerja. Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam bentuk pengangguran terselubung dan pekerja yang terjebak di sektor informal dengan produktivitas rendah. Ketika keterampilan tidak lagi cocok dengan kebutuhan industri, masa tunggu kerja bisa memanjang dan menciptakan beban fiskal baru.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pasar kerja AS akan mencair sebelum pengangguran jangka panjang menjadi masalah struktural. Jika perusahaan tetap menahan rekrutmen sambil menunggu kepastian ekonomi dan adopsi AI yang semakin masif, kelompok dua juta orang itu bisa kehilangan keterikatan dengan angkatan kerja secara permanen. Kebijakan pelatihan ulang dan jaring pengaman sosial yang lebih adaptif tampaknya menjadi taruhan, bukan sekadar pelengkap.



