Phill Lewis Bongkar Praktik Disney: Syuting Episode Ekstra 'Suite Life' Tanpa Bayar Cast
Baca dalam 60 detik
- Phill Lewis mengungkap Disney memproduksi episode tambahan The Suite Life of Zack and Cody dengan merekam satu adegan per pekan, lalu merangkainya menjadi episode baru tanpa kompensasi tambahan bagi para aktor.
- Praktik ini diperkuat klausul kontrak yang membatasi hitungan musim, sehingga pemain tidak menerima kenaikan bayaran meski beban kerja bertambah.
- Dylan Sprouse mengaku hanya menerima cek residual sebesar lima sen dari seluruh penayangan ulang serial tersebut, memicu pertanyaan tentang keadilan sistem royalti di industri hiburan.

Phill Lewis, aktor yang memerankan manajer hotel Mr. Moseby dalam serial Disney Channel The Suite Life of Zack and Cody, membuka praktik produksi yang ia nilai merugikan para pemain. Dalam podcast Wildman milik Dylan Sprouse, Lewis mengungkap bahwa tim produksi merekam adegan-adegan dari satu episode secara terpisah setiap pekan, lalu menggabungkannya menjadi episode utuh—tanpa menghitungnya sebagai episode tambahan untuk keperluan bayaran.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran publik tentang bagaimana studio besar mengelola hak dan kompensasi aktor, terutama di era streaming yang membuat residual semakin sulit dilacak. Lewis, 58 tahun, menyebut pola tersebut sebagai "wraparound episode": saat syuting episode reguler, ia dan pemain lain diminta merekam satu adegan dari episode yang baru akan digarap dua pekan kemudian. Pekan berikutnya, proses serupa berulang untuk episode yang sama. "Mereka menyusun satu episode dengan cara menembak satu adegan per pekan," ujarnya seperti dikutip dari percakapan tersebut.
Klaim Lewis menyoroti dua persoalan yang saling terkait: beban kerja yang tidak tercermin dalam kompensasi, dan definisi "musim" yang fleksibel. Menurut Lewis, para aktor terikat klausul yang membolehkan produksi mengejar target episode dalam satu tahun tanpa konsekuensi kenaikan bayaran. "Mereka menyebutnya satu musim karena tidak perlu membayar kami lebih," katanya. Praktik semacam ini, jika benar, bukan hal baru di Hollywood, tetapi pengungkapan dari aktor yang terlibat langsung memberi bobot berbeda.
Disney belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Namun, isu residual dan transparansi kontrak tengah menjadi sorotan setelah pemogokan penulis dan aktor pada 2023. Sistem residual—pembayaran yang diterima aktor saat karya mereka ditayangkan ulang—menjadi salah satu titik gesekan utama, terutama karena platform streaming enggan membuka data penayangan secara rinci. Pengakuan Dylan Sprouse bahwa ia hanya menerima lima sen dari penayangan ulang serial yang membesarkan namanya menjadi ilustrasi ekstrem betapa kecilnya nilai residual dalam praktik.
"Satu-satunya cek residual yang pernah saya terima untuk The Suite Life adalah dari episode crossover dengan Hannah Montana, sebesar lima sen. Saya tidak bercanda," kata Dylan Sprouse dalam podcast yang sama.
The Suite Life of Zack and Cody tayang di Disney Channel dari 2005 hingga 2008, mengisahkan dua remaja kembar yang tinggal di Tipton Hotel, Boston. Spin-off-nya, The Suite Life on Deck, berlanjut pada 2008–2011. Bagi penonton Indonesia, serial ini adalah bagian dari memori kolektif era televisi kabel awal 2000-an, ketika Disney Channel menjadi salah satu saluran favorit anak-anak dan remaja. Namun di balik tayangan ringan itu, tersimpan dinamika industri yang jauh lebih keras.
Bagi industri hiburan Indonesia, kasus ini relevan sebagai cermin. Praktik kontrak jangka panjang dengan klausul sepihak, minimnya transparansi residual, dan lemahnya posisi tawar aktor muda bukan hal asing di produksi lokal. Serial televisi nasional kerap mempekerjakan pemain dengan kontrak per proyek tanpa jaminan royalti dari penayangan ulang. Jika Hollywood—dengan serikat aktor yang kuat—masih menghadapi celah seperti ini, negara dengan regulasi tenaga kerja seni yang belum matang berpotensi menghadapi persoalan serupa dalam skala lebih besar.
Ke depan, pernyataan Lewis dan Sprouse bisa mendorong serikat aktor SAG-AFTRA untuk meninjau kembali definisi episode dan musim dalam kontrak standar, terutama untuk produksi yang melibatkan anak-anak. Pertanyaannya, apakah Disney akan membuka data produksi dan residual, atau tetap diam sementara publik semakin jeli membedah praktik di balik layar hiburan yang mereka konsumsi?



