John Frieda, Penata Rambut Princess Diana dan Arsitek Frizz Ease, Tutup Usia di 75 Tahun
Baca dalam 60 detik
- John Frieda meninggal pada usia 75 tahun, diumumkan melalui akun Instagram resmi salonnya pada Selasa malam tanpa menyebut penyebab pasti.
- Ia dikenal sebagai penata rambut selebritas dengan klien Princess Diana dan Joanna Lumley, serta pendiri merek perawatan rambut yang dibeli Kao senilai USD450 juta.
- Kepergiannya memicu gelombang penghormatan dari kalangan industri yang menyebutnya sebagai legenda dan inovator di bidang tata rambut.

John Frieda, penata rambut yang namanya melekat pada produk perawatan rambut global dan menjadi langganan selebritas dunia, meninggal dunia pada usia 75 tahun. Kabar duka itu disampaikan melalui akun Instagram resmi John Frieda Hair Salon pada Selasa malam, 3 November, tanpa merinci penyebab kematian. Dalam pernyataan yang menyertai foto hitam-putihnya, pihak salon menyebut Frieda berpulang dengan tenang di tengah keluarga.
Kepergian Frieda menandai berakhirnya satu babak dalam industri kecantikan yang ia geluti selama setengah abad. Ia bukan sekadar penata rambut di balik penampilan para bangsawan dan bintang film, tetapi juga sosok yang berhasil menerjemahkan keahlian salon menjadi kerajaan bisnis. Merek perawatan rambutnya, termasuk lini Frizz Ease yang legendaris, diakuisisi oleh perusahaan Jepang Kao pada 2002 dengan nilai USD450 juta atau sekitar Rp6,7 triliun. Angka itu menjadi salah satu eksit terbesar di sektor kecantikan rambut saat itu.
Lahir di London pada 1951, Frieda menghabiskan masa mudanya dengan bekerja paruh waktu di salon ayahnya. Pada usia awal dua puluhan, ia membuka usaha sendiri dan perlahan membangun reputasi. Namanya melambung setelah menangani rambut Princess Diana dan aktris Joanna Lumley. Pada 1977, ia menikah dengan penyanyi Lulu dan dikaruniai seorang putra, Jordan, sebelum bercerai pada 1991. Pada 2019, ia menikah lagi dengan Avery Agnelli, janda pewaris Fiat Giovanni Alberto Agnelli, dan memiliki dua anak.
Ucapan belasungkawa mengalir dari mereka yang pernah bekerja dengannya. Nicola Clarke, colorist yang menangani Madonna dan Cate Blanchett, menyebut Frieda sebagai mentor paling berpengaruh dalam hidupnya. Ia mengungkapkan bahwa Frieda meninggal setelah berjuang melawan penyakit yang tidak disebutkan. "Dia adalah pria paling baik," tulis Clarke. Sementara itu, Cetera Lamb, direktur kreatif salon John Frieda di Mayfair, London, mengenangnya sebagai "legenda sejati" dan "maverick" di dunia tata rambut. "Selama 50 tahun ia memimpin salon kami, meninggalkan warisan gairah, kreativitas, visi, dan tata rambut yang luar biasa," ujarnya.
"John lebih dari sekadar mentor bagi kami; dia adalah ikon industri rambut. Dia yang mengajari kami segalanya, percaya pada kami, dan membuat kami lebih baik." — Pernyataan resmi John Frieda Hair Salon.
Di Indonesia, nama John Frieda tidak asing bagi konsumen kelas menengah yang akrab dengan produk perawatan rambut impor. Merek ini sempat hadir di beberapa gerai ritel modern dan platform e-commerce, meski tidak seagresif pemain global lain. Bagi industri kecantikan Tanah Air, kisah Frieda menjadi contoh bagaimana keahlian teknis di salon bisa dikembangkan menjadi merek yang memiliki daya jual tinggi. Model bisnis serupa mulai diadopsi oleh beberapa salon lokal yang meluncurkan lini produk sendiri, meski skala dan valuasi masih jauh berbeda.
Kepergian Frieda juga memunculkan pertanyaan tentang arah merek yang ia dirikan. Sejak diakuisisi Kao, John Frieda tetap beroperasi sebagai unit bisnis terpisah dengan identitas yang kuat. Namun, sosok pendiri sering menjadi wajah dan jiwa dari sebuah merek kecantikan. Tanpa kehadirannya, tantangan bagi tim manajemen adalah menjaga relevansi di pasar yang semakin kompetitif, terutama dengan munculnya merek-merek baru berbasis bahan alami dan teknologi. Apakah John Frieda akan tetap menjadi nama yang diperhitungkan, atau perlahan kehilangan pesona karismatik pendirinya? Waktu yang akan menguji, tetapi warisan Frieda telah mengubah cara dunia memandang perawatan rambut.



