Luca Williams-Barnett: Permata Tottenham yang Terancam Pergi demi Menit Bermain
Baca dalam 60 detik
- Luca Williams-Barnett, gelandang serang 18 tahun, baru tampil 17 menit di tim senior Tottenham tetapi sudah menarik minat Bayern Munich dan Borussia Dortmund.
- Kedatangan Mykhailo Mudryk secara pinjaman dan pulihnya pemain lain membuat jalan Williams-Barnett ke tim utama semakin sempit.
- Jika tidak segera diberi kesempatan, Spurs berisiko kehilangan salah satu talenta akademi terbaiknya ke klub Jerman pada bursa transfer mendatang.

Luca Williams-Barnett, talenta muda Tottenham Hotspur, berada di persimpangan karier setelah penampilan impresifnya dalam debut singkat di Premier League memicu spekulasi kepindahan ke Jerman. Gelandang serang 18 tahun itu hanya bermain beberapa menit melawan Crystal Palace akhir pekan lalu, tetapi aksinya melewati tiga pemain dan menciptakan peluang bagi Mohammed Kudus sudah cukup menunjukkan kualitasnya.
Menurut laporan yang beredar pada Oktober, kontrak Williams-Barnett di Tottenham berakhir pada 2028. Bayern Munich dan Borussia Dortmund dikabarkan telah melakukan pendekatan awal. Situasi ini menjadi ironi bagi Spurs yang tengah berjuang mengatasi masalah ketajaman lini depan.
Musim ini, Williams-Barnett baru mengumpulkan 14 menit bermain di liga dari total 17 menit sepanjang karier seniornya. Meski demikian, ia menunjukkan fleksibilitas luar biasa. Di pramusim, ia tampil sebagai gelandang bertahan dalam kemenangan 1-0 atas MK Dons dan bahkan mengungguli Sandro Tonali serta Mateus Fernandes. Namun, posisi idealnya adalah gelandang serang, di mana ia mencetak tujuh gol dalam 11 pertandingan bersama tim muda musim lalu.
Pelatih Roberto De Zerbi memuji Williams-Barnett sebagai "talent yang sangat hebat" tetapi enggan memberinya lebih banyak menit bermain. Keputusan ini menuai kritik mengingat lini depan Tottenham yang tumpul. Spurs baru mencetak gol pada pertandingan kelima Premier League musim ini, dan gol-gol justru datang dari bek seperti Archie Gray dan Jan Paul van Hecke. Ben Davies bahkan menjadi topskor bersama dengan dua gol.
Meski begitu, De Zerbi mulai menemukan ritme serangan dengan gol dari Omar Marmoush, Dominic Solanke, Mathys Tel, dan James Maddison dalam beberapa pekan terakhir. Kembalinya Mohammed Kudus dan Dejan Kulusevski dari cedera menambah kedalaman skuad. Namun, yang paling mengancam posisi Williams-Barnett adalah kepulangan Mykhailo Mudryk dari skorsing. Pemain pinjaman dari Chelsea itu digadang-gadang sebagai penerus Gareth Bale oleh De Zerbi sendiri.
"Mudryk bisa memenangkan Ballon d'Or di masa depan," kata De Zerbi pada 2022, seperti dikutip dari sumber.
Mudryk, yang bergabung dengan status pinjaman pada musim panas, belum banyak bermain karena skorsing penggunaan zat terlarang. Namun, kecepatan dan kekuatannya di sayap kiri membuatnya menjadi ancaman bagi Williams-Barnett. De Zerbi dikenal sangat menyukai Mudryk, dan begitu ia kembali bugar, menit bermain untuk Williams-Barnett dipastikan semakin terbatas.
Bagi Tottenham, situasi ini mengingatkan pada kepergian Gareth Bale ke Real Madrid pada 2013. Saat itu, Bale meninggalkan Spurs untuk meraih kesuksesan global. Kini, Williams-Barnett menghadapi dilema serupa: bertahan di klub yang memberinya debut tetapi minim kesempatan, atau pindah ke Jerman untuk mengembangkan karier. Klub-klub Bundesliga dikenal berani memberi kepercayaan kepada pemain muda, dan itu bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Jika Tottenham tidak segera mengubah pendekatannya, mereka berisiko kehilangan permata akademi yang telah lama dibina. De Zerbi perlu mempertimbangkan untuk memberi Williams-Barnett peran yang lebih signifikan, setidaknya sebagai pemain pengganti reguler, sebelum terlambat. Pertanyaannya, akankah Spurs belajar dari sejarah atau kembali melepas talenta besarnya?



