Krisis Manchester United: Carrick di Ujung Tanduk, Baleba Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Manchester United menelan kekalahan kelima di Liga Premier setelah takluk 0-2 dari Chelsea, memperpanjang rekor buruk musim ini.
- Lisandro Martinez memberi penalti dan diusir, sementara Carlos Baleba tampil buruk dengan hanya memenangi satu duel darat dan kehilangan bola 12 kali.
- Tekanan pada Michael Carrick memuncak, tetapi pergantian pelatih dianggap bukan solusi instan untuk masalah struktural klub.

Manchester United kembali menelan hasil pahit. Kekalahan 0-2 dari Chelsea di Stamford Bridge, Sabtu (31/10/2026), membuat Setan Merah baru mengoleksi satu kemenangan dari sembilan laga Liga Premier. Posisi Michael Carrick sebagai pelatih kepala pun semakin goyah, meski ia menegaskan akan tetap memimpin tim saat menghadapi AS Roma di Liga Champions tengah pekan nanti.
Kekalahan ini bukan sekadar angka di papan skor. Ada narasi yang lebih dalam: United tampil menjanjikan di babak pertama, menekan tuan rumah, tetapi kembali runtuh akibat kesalahan individu. Lisandro Martinez, yang menjadi biang keladi gol kedua Chelsea melalui penalti Cole Palmer, juga mendapat kartu merah. Ia akan absen di laga krusial melawan Aston Villa akhir pekan depan. Ironisnya, Martinez sebelumnya vokal mengkritik kelemahan tim, namun justru ia sendiri yang melakukan pelanggaran fatal.
Di tengah sorotan terhadap Carrick dan Martinez, performa Carlos Baleba luput dari perhatian. Gelandang asal Kamerun itu didatangkan dengan harga 70 juta poundsterling dari Brighton pada 2025, tetapi belum menunjukkan kualitas yang sepadan. Melawan Chelsea, ia tampak kewalahan. Statistik menunjukkan ia kalah dalam lima dari enam duel darat, tidak mencoba melewati lawan, dan kehilangan bola lebih dari selusin kali. Konten kreator Mark Goldbridge bahkan menyebutnya "bukan pemain 70 juta poundsterling".
Kritik terhadap Baleba sebenarnya bukan barang baru. Sejak gagal bergabung dengan United pada 2025, performanya di Brighton menurun. Ketika akhirnya hijrah ke Old Trafford, ekspektasi tinggi justru membuatnya tertekan. Di lini tengah yang membutuhkan kepemimpinan dan kedewasaan, Baleba belum mampu menjadi jangkar yang diharapkan. Ia masih jauh dari kata memenuhi standar Manchester United.
"Apakah Amorim, Ten Hag, atau semua pelatih pasca Sir Alex Ferguson adalah masalahnya?" ujar Joe Cole, mengisyaratkan bahwa persoalan United lebih dalam dari sekadar sosok di bangku cadangan.
Pertanyaan Joe Cole itu relevan. Banyak pihak menilai pergantian pelatih, termasuk mendatangkan Eddie Howe yang dikabarkan menjadi kandidat utama, hanya akan mengulang siklus kegagalan. Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir, United telah mencoba berbagai nama, tetapi konsistensi tak kunjung datang. Budaya klub dan keputusan di level atas, termasuk di bawah kepemilikan Glazers dan Sir Jim Ratcliffe, kerap menjadi sorotan. Namun, para pemain juga harus bertanggung jawab atas kualitas yang ditampilkan di lapangan.
Carrick sendiri menyatakan keyakinannya akan tetap memimpin tim setidaknya hingga jeda internasional November. Namun, waktu terus berjalan. Kekalahan dari Chelsea membuat posisinya semakin tidak nyaman. Jika United gagal bangkit melawan Aston Villa, tekanan bisa menjadi tak tertahankan. Di sisi lain, pergantian pelatih di tengah musim bukanlah solusi ajaib. Diperlukan pembenahan menyeluruh, mulai dari strategi rekrutmen hingga pengembangan pemain muda.
Bagi penggemar United di Indonesia, krisis ini tentu menjadi tontonan yang menyakitkan. Klub dengan basis penggemar besar di Tanah Air itu selalu menjadi perhatian, terutama di platform digital. Namun, ada pelajaran berharga: kesuksesan tidak bisa dibeli hanya dengan uang. Diperlukan visi jangka panjang, kesabaran, dan budaya kerja yang sehat. Pertanyaannya, akankah United menemukan jalan keluar dari labirin ini, atau justru semakin terpuruk?



