Sir Patrick Stewart Tutup Usia: Shoey Podium F1 2017 yang Mengubah Wajah Olahraga
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Sir Patrick Stewart meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah berjuang melawan Alzheimer dan demensia Lewy body.
- Momen ikoniknya minum sampanye dari sepatu balap Daniel Ricciardo di podium GP Kanada 2017 menjadi salah satu adegan paling diingat penggemar F1.
- Warisan Stewart melampaui layar lebar, termasuk kecintaannya pada motorsport yang memperlihatkan sisi manusiawi para bintang balap.

Dunia hiburan dan penggemar Formula 1 kehilangan salah satu sosok paling karismatik. Sir Patrick Stewart, aktor yang dikenal lewat perannya sebagai Captain Jean-Luc Picard di Star Trek dan Professor X di X-Men, meninggal dunia di kediamannya di Los Angeles pada usia 86 tahun setelah berjuang melawan penyakit Alzheimer dan demensia Lewy body. Namun bagi pencinta balap, nama Stewart justru melekat pada sebuah momen tak terlupakan di podium Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal, 2017.
Saat itu, Stewart dipercaya sebagai pewawancara podium untuk Grand Prix Kanada. Ia tampil dengan gaya teatrikalnya yang khas, membuka sesi dengan sapaan hangat kepada Lewis Hamilton yang baru saja memenangi balapan. "Mungkin Anda berpikir tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkendara santai di tepi sungai pada Minggu sore di Montreal. Tapi kali ini sedikit berbeda, bukan?" ujarnya, seperti dikutip Motorsport.com. Namun perhatian publik justru tertuju pada interaksinya dengan Daniel Ricciardo, pembalap Red Bull yang finis ketiga.
Ricciardo, yang terkenal dengan tradisi 'shoey'—minum sampanye dari sepatu balapnya sendiri—tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan. "Sepertinya saya mendengar sesuatu... Saya harus melakukan sesuatu," kata Ricciardo sebelum menenggak sampanye dari sepatunya dan menyerahkannya kepada Stewart. Tanpa ragu, aktor yang saat itu berusia 76 tahun itu langsung meniru aksi tersebut, disambut sorakan meriah dari penonton. "Ini sudah menjadi ritual! Anggur yang enak! Cheers!" serunya.
Momen itu bukan sekadar lelucon spontan. Bagi banyak pengamat, adegan tersebut memperlihatkan sisi lain dari Formula 1 yang kerap terkesan teknis dan penuh tekanan. Kehadiran Stewart—seorang aktor kelas dunia yang mengaku sebagai penggemar berat motorsport—menjembatani dunia glamor Hollywood dengan kerasnya kompetisi balap. Hamilton pun ikut terkesan. "Saya bangga padamu karena melakukan itu! Itu sesuatu yang tidak bisa saya lakukan. Apa kau lihat betapa berkeringatnya kakinya?" ujar Hamilton, yang sehari sebelumnya menyamai rekor 65 pole position Ayrton Senna.
Bagi Indonesia, kisah Stewart mengingatkan bahwa olahraga tidak pernah lepas dari faktor manusia. Di tengah euforia pembangunan sirkuit internasional dan upaya melahirkan pembalap nasional, momen seperti ini menunjukkan bahwa daya tarik F1 tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga cerita dan kepribadian yang menyertainya. Penggemar Tanah Air yang tumbuh dengan tayangan MotoGP dan F1 tentu memahami bagaimana interaksi antargenerasi—seperti Stewart dan Ricciardo—menciptakan ikatan emosional yang memperkuat komunitas.
Sepeninggal Stewart, warisannya di dunia balap tetap hidup. Ricciardo, yang meninggalkan F1 pada 2024, telah melakukan beberapa kali shoey lainnya, tetapi tidak ada yang menyamai momen kebersamaannya dengan Captain Picard. Kini, saat F1 terus berbenah menuju era baru, akankah muncul sosok seperti Stewart yang mampu menyatukan dunia hiburan dan olahraga dengan begitu memikat?



