Konflik Timur Tengah Kacaukan Agenda FIFA Matchday, PSSI Diminta Pindahkan Uji Coba ke Turki
Baca dalam 60 detik
- PSSI tengah menimbang ulang lokasi uji coba Timnas Indonesia versus Yordania dan Kuwait pada FIFA Matchday November 2026 imbas eskalasi keamanan di Timur Tengah.
- Pengamat sepak bola Gusnul Yakin menilai memindahkan laga ke Turki sebagai solusi paling masuk akal karena waktu yang mepet dan sulitnya mencari lawan pengganti sepadan.
- Duel melawan dua wakil Jazirah Arab tetap krusial sebagai simulasi taktis sebelum Indonesia menghadapi Qatar di ajang resmi.

Ketidakpastian keamanan di kawasan Timur Tengah memaksa PSSI mengevaluasi ulang rencana uji coba Timnas Indonesia melawan Yordania dan Kuwait yang semula dijadwalkan di Amman pada 13 dan 17 November 2026. Pengamat sepak bola senior Gusnul Yakin menilai memindahkan kedua laga ke Turki menjadi jalan tengah yang paling realistis di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Sejatinya, duel melawan dua kontestan Piala Asia 2027 itu sudah dirancang sebagai bagian dari persiapan jangka panjang skuad asuhan John Herdman. Yordania yang tergabung di Grup B dan Kuwait di Grup A akan menjadi lawan yang merepresentasikan karakter permainan tim Timur Tengah—sesuatu yang dibutuhkan Indonesia sebelum menghadapi Qatar pada agenda berikutnya. Namun, konflik bersenjata yang masih berkecamuk di sejumlah negara kawasan membuat faktor keselamatan pemain tidak bisa ditawar.
"Faktor keamanan dan keselamatan pemain harus diutamakan. Yordania dan Kuwait saya anggap lawan yang tepat. Setidaknya John Herdman dan para pemain akan tahu karakter permainan tim dari Timur Tengah sebelum kita lawan Qatar," ujar Gusnul seperti dikutip dari bola.com.
Persoalan utamanya bukan sekadar memindahkan venue. Dengan waktu yang tersisa kurang dari sebulan, mencari lawan pengganti sepadan nyaris mustahil. Sebagian besar negara peserta Piala Asia 2027 sudah mengunci agenda FIFA Matchday mereka, sehingga opsi mendatangkan tim di luar peserta turnamen justru menurunkan kualitas simulasi. Di titik inilah usulan Gusnul menjadi relevan: PSSI didorong melobi Yordania dan Kuwait agar tetap bersedia bertanding, hanya lokasinya digeser ke Turki.
Gusnul mengambil contoh konkret dari program Timnas Indonesia U-20. Skuad asuhan Nova Arianto dijadwalkan menjalani pemusatan latihan di Turki dan menghadapi Yordania U-20 serta AS U-20 sebagai persiapan menuju putaran final Piala Asia U-20 2027 di China, 24 Maret–10 April 2027. Jika PSSI menilai Turki layak untuk kelompok umur, logikanya negara itu juga cukup aman untuk tim senior.
"Kalau PSSI merestui Timnas Indonesia U-20 TC di Turki berarti negara itu lebih aman dibanding Timur Tengah. Jadi kenapa Timnas Indonesia senior tak sekalian melawan Yordania dan Kuwait di Turki saja," tuturnya.
Bagi PSSI, keputusan ini menyangkut dua hal sekaligus: keselamatan pemain dan kualitas persiapan. Membatalkan uji coba berarti Timnas kehilangan momentum untuk mengasah taktik melawan tim bergaya Arab—sesuatu yang tidak selalu bisa didapat dari lawan asal Asia Tenggara atau Eropa. Sebaliknya, memaksakan laga di Amman tanpa jaminan keamanan berisiko menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir sebelumnya telah buka suara soal ketidakpastian ini, menandakan federasi tengah menimbang opsi secara hati-hati. Namun hingga kini belum ada keputusan resmi apakah agenda di Amman dibatalkan, dipindahkan, atau tetap berjalan dengan penyesuaian protokol keamanan.
Yang perlu dicermati, keputusan ini akan menjadi presisi bagi PSSI dalam mengelola agenda internasional di tengah ketegangan global. Jika lobi ke Turki berhasil, Timnas Indonesia bisa tetap menjalani dua laga berkualitas tanpa mengorbankan aspek keselamatan. Namun jika gagal, Herdman harus bersiap dengan rencana cadangan yang mungkin kurang ideal. Akankah PSSI bergerak cepat sebelum jendela FIFA Matchday menutup?



