Alphabet Anjlok 10% di Pramarket, Terpuruk Akibat Arus Kas Negatif dan Tekanan Pencarian
Baca dalam 60 detik
- Saham Alphabet merosot tajam di perdagangan pramarket setelah laporan kuartal ketiga mengecewakan, dengan arus kas bebas negatif yang jauh melebihi ekspektasi analis.
- Di sisi lain, Microsoft mencatat kinerja lebih baik dengan belanja modal di bawah perkiraan, meski arus kas bebasnya turun 27% namun tetap positif.
- Penurunan ini berpotensi menjadi reaksi pasca-rilis laba terburuk sepanjang sejarah Alphabet, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap strategi belanja AI perusahaan.

Saham Alphabet Inc. ambles 10% dalam perdagangan pramarket Kamis (29/10/2026) setelah raksasa teknologi itu melaporkan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar untuk kuartal ketiga, jauh melampaui perkiraan analis yang hanya membayangkan defisit US$2,70 miliar. Jika penurunan berlanjut hingga penutupan dan melewati 9,77%, maka ini akan menjadi reaksi pasca-rilis laba terburuk sepanjang sejarah perusahaan yang melantai di bursa sejak 2004.
Kinerja buruk Alphabet kontras dengan Microsoft yang sahamnya justru naik hampir 4% di pramarket. Microsoft membukukan belanja modal dan sewa pembiayaan sebesar US$45,2 miliar, atau 30% lebih tinggi dari tahun lalu, tetapi masih di bawah proyeksi analis US$50,67 miliar. Arus kas bebas Microsoft memang turun 27% menjadi US$18,63 miliar, namun tetap positif. Sementara itu, Alphabet mempertahankan panduan belanja modal setahun penuh di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar, angka yang sangat besar dan menimbulkan pertanyaan tentang pengembalian investasi.
Tekanan utama datang dari bisnis iklan pencarian yang menjadi tulang punggung pendapatan Alphabet. Pada kuartal September, segmen ini tumbuh 12% menjadi US$63,35 miliar, tetapi tetap gagal memenuhi ekspektasi pasar. Philipp Schindler, Chief Business Officer Alphabet, mengakui bahwa salah satu penyebabnya adalah monetisasi yang lebih rendah dalam fitur AI Mode perusahaan. Ia menyebut Alphabet kini sedang memperluas penempatan iklan di produk AI Overviews dan AI Mode, termasuk di pasar internasional.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup menjawab tantangan struktural. Google menghadapi persaingan sengit dari chatbot AI seperti ChatGPT milik OpenAI dan Claude dari Anthropic, yang semakin sering digunakan pengguna untuk melakukan pencarian di luar ekosistem Google. Gemini, chatbot besutan Google, dianggap belum mampu mengejar ketertinggalan. Ben Barringer, Head of Global Technology Research di Quilter Cheviot, menilai Alphabet terjebak dalam dilema inovator. "Google tidak tahu apakah harus melindungi bisnis intinya atau ikut dalam disrupsi. Akibatnya, Gemini kehilangan daya saing dan tertinggal dari pesaing dalam AI agentik," ujarnya seperti dikutip CNBC.
"Microsoft membangun arsitekturnya secara terukur sehingga lebih sedikit kejutan. Alphabet sebaliknya, harga sahamnya tertekan setelah jam pasar akibat hasil yang berantakan dan panggilan laba yang kurang tertangani," kata Barringer.
Reaksi pasar tidak hanya tercermin pada saham Alphabet. Futures Nasdaq-100 turun lebih dari 1% pada Kamis pagi, menandakan kekhawatiran yang lebih luas terhadap sektor teknologi. Investor kini semakin kritis terhadap rencana belanja AI perusahaan-perusahaan raksasa, beralih dari euforia pertumbuhan ke tuntutan akan laba yang nyata. Dalam beberapa kuartal terakhir, pasar telah memberikan sinyal bahwa mereka tidak lagi bersedia membiayai ekspansi tanpa batas tanpa bukti pengembalian yang jelas.
Bagi Indonesia, gejolak saham teknologi AS ini patut dicermati. Teknologi AI dan layanan cloud dari Alphabet dan Microsoft memiliki keterkaitan dengan ekosistem digital nasional, mulai dari penyedia layanan infrastruktur hingga perusahaan rintisan yang bergantung pada platform mereka. Penurunan belanja modal atau perubahan strategi AI global dapat memengaruhi ketersediaan layanan dan biaya operasional startup Indonesia. Selain itu, sentimen negatif terhadap saham teknologi global berpotensi menular ke pasar modal domestik, terutama saham-saham sektor teknologi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Alphabet mampu membalikkan keadaan. Perusahaan perlu membuktikan bahwa investasi besar di AI tidak sekadar menguras kas, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan. Sementara Microsoft tampak lebih percaya diri dengan pendekatan belanja yang lebih terkendali, Alphabet berada di persimpangan: mempertahankan dominasi pencarian atau bertransformasi total menghadapi era AI. Pasar akan menunggu dengan sabar, tetapi kesabaran investor tampaknya semakin menipis.



