Gelombang Baru: Orang Kaya Tiongkok Mulai Rela Lepas Kewarganegaraan demi Paspor Kedua
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah konglomerat Tiongkok dilaporkan siap melepas status kewarganegaraan demi memperoleh paspor asing, sebuah langkah yang sebelumnya dianggap tabu.
- Pemicu utamanya adalah aturan baru perpajakan atas trust lepas pantai yang berlaku sejak Juli, ditambah kekhawatiran geopolitik dan kebutuhan mobilitas global.
- Karibia dan Singapura menjadi tujuan favorit karena prosesnya cepat, sementara Eropa menawarkan jalur residensi bagi yang belum siap melepas paspor asal.

Bagi segelintir orang terkaya Tiongkok, memiliki satu paspor tidak lagi memadai. Mereka kini mempertimbangkan langkah ekstrem: melepaskan kewarganegaraan Tiongkok demi mendapatkan paspor negara lain. Konsultan imigrasi dan firma hukum melaporkan lonjakan permintaan sejak Juli, ketika Beijing memperketat pengawasan atas kekayaan lepas pantai.
Perubahan regulasi itu menyasar trust di luar negeri, dengan potensi pengenaan pajak 20% atas penghasilan dan transaksi tertentu. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan keluarga kaya akan beban pajak baru, ketidakpastian geopolitik, serta keinginan memperluas akses perjalanan internasional. Karena Tiongkok tidak mengakui kewarganegaraan ganda, siapa pun yang ingin menjadi warga negara asing harus menanggalkan statusnya sebagai warga Tiongkok.
โKami memiliki klien yang bersedia melepaskan kewarganegaraan Tiongkok untuk memegang beberapa paspor,โ ujar Armand Arton, CEO konsultan migrasi Arton Capital, seperti dikutip CNBC. Ia menambahkan bahwa pilihan paspor sangat bergantung pada gaya hidup dan kebutuhan bisnis masing-masing individu.
Ryan Lin, direktur firma hukum Bayfront Law yang berbasis di Singapura, mencatat peningkatan jumlah orang kaya Tiongkok yang serius mempertimbangkan renunsiasi sejak Juli. Jika sebelumnya diskusi sebatas wacana, kini semakin banyak yang menyatakan niat konkret. Hal senada disampaikan Manish Tibrewal, co-founder multi-family office Farro Capital, yang mengaku tengah membantu sejumlah keluarga Tiongkok mengurus kewarganegaraan Karibia sambil menempuh jalur residensi permanen di Singapura.
Meski demikian, melepaskan kewarganegaraan bukan berarti bebas dari kewajiban pajak. Para ahli mengingatkan bahwa individu tetap bertanggung jawab atas pajak dari keuntungan historis, tergantung bagaimana kekayaan mereka distrukturkan. Namun, perubahan kewarganegaraan dan residensi yang sesungguhnya dapat memengaruhi kewajiban pajak di masa depan.
Bagi banyak orang kaya Tiongkok, melepas status kewarganegaraan tetap merupakan pengorbanan besar, terutama bagi mereka yang bisnis dan kekayaannya masih terikat di daratan Tiongkok. Lin menjelaskan bahwa mereka yang paling bersedia mengambil langkah ini umumnya sudah tidak memiliki banyak kaitan bisnis dengan Tiongkok, dengan sebagian besar aset dan operasi berada di luar negeri.
Lalu, ke mana mereka akan pindah? Karibia menjadi primadona bagi mereka yang menginginkan paspor alternatif, bukan sekadar residensi. Negara seperti Antigua dan Barbuda menawarkan program kewarganegaraan melalui investasi yang memungkinkan pemohon memenuhi syarat memperoleh kewarganegaraan lewat investasi atau kontribusi tertentu. Prosesnya relatif cepat, sekitar enam bulan, dan daya tariknya bukan untuk menetap permanen, melainkan fleksibilitas perjalanan serta membangun basis internasional.
Negara-negara Eropa juga menarik minat, meski banyak yang menawarkan jalur residensi ketimbang kewarganegaraan langsung. Portugal masih populer melalui program golden visa, yang memberikan residensi melalui investasi dan berpotensi menjadi jalur menuju kewarganegaraan dalam jangka panjang. Italia menarik keluarga kaya berkat pengaturan pajak yang menguntungkan bagi penduduk baru, sekolah internasional, dan infrastruktur jasa keuangan. Hongaria menjadi tujuan yang mengejutkan banyak pihak karena menawarkan residensi di kawasan Schengen melalui investasi dana terkelola, terutama setelah jalur golden visa Eropa lainnya ditutup atau menjadi lebih mahal.
Singapura tetap menjadi magnet bagi orang kaya Tiongkok karena stabilitas politik, industri manajemen kekayaan yang mapan, sekolah internasional, dan kedekatannya dengan daratan Tiongkok. Beberapa keluarga menempuh jalur residensi permanen sebagai bagian dari rencana kewarganegaraan jangka panjang, meski naturalisasi tidak otomatis dan tidak dijamin.
Australia juga menjadi pilihan populer, terutama bagi keluarga yang memprioritaskan pendidikan dan kualitas hidup. Malaysia, khususnya Kuala Lumpur dan Penang, semakin diminati karena biaya hidup lebih rendah, komunitas berbahasa Mandarin, dan sekolah internasional. Sementara itu, Argentina dan sebagian Eropa Timur muncul sebagai tujuan alternatif untuk mendiversifikasi opsi residensi internasional.
Para penasihat mengingatkan bahwa minat terhadap kewarganegaraan asing tidak selalu berujung pada renunsiasi yang benar-benar dilakukan atau relokasi fisik. โPenting untuk menyadari bahwa menjajaki residensi luar negeri, membangun portofolio paspor, dan memindahkan seluruh keluarga adalah keputusan yang sangat berbeda,โ kata Arton. Dengan tekanan regulasi yang diperkirakan berlanjut, pertanyaannya kini: seberapa besar gelombang ini akan mengubah peta kekayaan dan mobilitas global dalam beberapa tahun mendatang?



